SKIZOFRENIA
Arti sebenarnya dari skizofrenia ada kepribadian yang
terbelah (gejala khas dari skizofrenia adalah kepribadian yang terpecah antara
pikiran, perasaan, dan perbuatan atau
disharmoni ketiga unsur tadi). Angka kejadiannya adalah 1% dari jumlah penduduk
(umum), tidak terkati budaya dan suku, dan onset (kemunculan pertama) pada
laki-laki biasanya lebih awal (15-24 tahun) daripada wanita (25-34 tahun).
Penyebab dari skizofrenia tidak diketahui secara pasti. Yang
diterima saat ini adalah teori yang menyatakan bahwa kejadian ini terjadi
secara multifaktorial: faktor internal pencetusnya adalah dari genetik (seseorang
yang memiliki orang tua dengan skizofrenia cenderung beresiko mengidapnya),
bawaan, dan biokimia, dan faktor eksternal pencetusnya dari trauma, infeksi
otak, dan stres. Faktor penyebab (faktor resiko) dari skizofrenia berasal dari
keturunan (disebutkan sebelumnya), pola asuh yang salah (faktor eksternal
psikologis), maladaptasi (kesalahan adaptasi psikologis dari stres yang
mengganggu), tekanan jiwa (termasuk ke dalam maladaptasi yang berat), dan
penyakit lain yang belum diketahui (beberapa sudah).
Gangguan jiwa terdiri dari psikosis dan neurosis. Psikosis terbagi
lagi menjadi dua, organik yang terdiri dari demensia, delirium dan GMP akibat
zat, sedangkan fungsional terdiri dari gangguan psikotik akut, skizofrenia,
waham, dan gangguan suasana perasaan.
Sedangkan gangguan neurosis terdiri dari reaksi stres akut,
gangguan penyesuaian, ansietas (fobia, panik, ocd), disosiasi/konversi, dan
lain-lain.
DEFINISI PSIKOSIS
Menurut Singgih D. Gunarsa, psikosis adalah gangguan jiwa
yang meliputi keseluruhan kepribadian, sehingga penderita tidak bisa
menyesuaikan diri dalam norma-norma hidup yang wajar dan berlaku umum. Menurut W.F
Maramis, psikosis adalah suatu gangguan dengan kehilangan rasa kenyataan (sense
of reality).
Kelainan seperti ini dapat diketahui berdasarkan
gangguan-gangguan pada perasaan, pikirian, kemauan, motorik, dst. (menurut
pengertian Singgih, perhatikan kata-kata “keseluruhan kepribadian” pada
deskripsi Singgih) sedemikian berat sehingga perilaku penderita tidak sesuai
lagi dengan kenyataan (perhatikan deskripsi Maramis pada kalimat “kehilangan
rasa kenyataan”).
Perilaku penderita psikosis tidak dapat dimengerti oleh
orang normal (kehilangan rasa kenyataan), sehingga seringkali disebut sebagai
orang gila.
PSIKOSIS ORGANIK
Terdiri dari demensia, delirium, dan GMP akibat zat (perhatikan
pembagian di atas). Psikosis organik adalah penyakit jiwa yang disebabkan oleh
faktor-faktor fisik atau organik (faktor-faktor fisiologis yang dapat
dikuantitasi faktornya). Pasien seringkali mengalami gangguan sosial sebagai
akibat dari inkompetensinya dalam bersosialisasi.
PSIKOSIS FUNGSIONAL
Merupakan penyakit jiwa yang bersifat nonorganik (berlawanan
dengan psikosis organik. Perhatikan pengertian skizofrenia di awal teks. Skizofrenia
merupakan penyakit yang bersifat multifaktorial, teori menegaskan bahwa
skizofrenia memiliki penyebab yang bersifat organik. hal ini merupakan usaha
teoriawan untuk mendefinisikan skizofrenia agar dapat ditemukan obat yang dapat
menyembuhkan minimal gejalanya (teori pada obat merupakan teori lock and key
yang sangat organik)). Penderita juga mengalami inkompetensi sosial, tetapi
ditambah dengan gagal menyesuaikan diri terhadap realitas.
Perbedaan psikotik organik dari organik terdiri dari: 1. Adanya
penyakit fisik (pada fungsional tidak ada, penyakit fisik di sini merupakan
penyakit penyerta. Perubahan fisik pada penderita psikotik fungsional juga
didapatkan, telah dijelaskan sebelumnya), 2. Gangguan orientasi (pada penyakit
psikotik fungsional tidak ada gangguan orientasi yang lebih banyak disebabkan oleh
gangguan fisik yang mendasarinya), 3. Gangguan daya ingat (pada psikotik
fungsional, daya ingat masih baik. Daya ingat ini yang merupakan gejala khas
dari salah satu penyakit psikotik organik, juga dilandasi oleh adanya perubahan
faktor fisik), 4. Gangguan fungsi kognitif (pada psikotik fungsional, tidak
didapati adanya gangguan kepandaian), 5. Gejala fluktuatif (pada psikotik
fungsional, gejala menetap sehingga sulit untuk disembuhkan), 6. Halusinasi visual
(hal ini hanya merupakan kecenderungan. Beberapa penyakit fungsional juga
melibatkan halusinasi visual, selain pendengaran), dan 7. Defisit neurologis (pada
fungsional tidak didapatkan kelainan ini, meskipun terkadang kelainan ini
melandasi/menjadi faktor resiko terjadinya psikotik fungsional)
Sedangkan perbedaan psikosis dari neurosis dilihat dari 1. Perilaku
umum (gangguan terjadi pada seluruh aspek kepribadian (lihat definisi singgih),
sedangkan pada neurosis terjadi perubahan sebagian aspek kepribadian dan kontak
realitas masih terdapat), 2. Gejala-gejala (gangguan psikosis ditandai dengan
gejala yang bervariasi luas, mulai dari waham, halusinasi, kedangkalan emosi,
dst yang dapat terjadi secara terus-menerus, sedangkan pada neurosis gejala
psikologis dan somatis dapat bervriasi, temporer dan ringan (tidak terlihat)),
3. Orientasi (pada psikosis, penderiat sering mengalami disorientasi, lain
halnya dengan neurosis), 4. Pemahaman (insight, penderita psikosis tidak
memahami bahwa dirinya sakit, pada neurosis penderita memahami bahwa dirinya
mengalami gangguan mood), 5. Resiko sosial (penderita psikosis terkadang
membahayakan orang lain disebabkan wahamnya atau membahayakan diri sendiri,
sedangkan penderita neurosis tidak membahayakan orang lain, tetapi diri
sendiri. Hal ini disebabkan oleh tidak adanya orang lain yang mengetahui
penderita neurosis, kecuali beberapa orang), 6. Penyembuhan (penderita psikosis
sulit untuk dapat kembali kepada keadaan semula dan harus dirawat di rumah
sakit, lain halnya dengan penderita neurosis).
SKIZOFRENIA
Beberapa konsep skizofrenia yang
telah diajukan: 1. Demensia prekoks oleh Emil kraepelin (demensia prematur, demensia
termasuk ke dalam psikosis organik. emil kraepelin di sini memasukkan
skizofrenia ke dalam gangguan psikosis organik, yang berarti psikosis yang
penurunan grafiknya tajam dan ditandai oleh disintegrasi kognitif), 2. Oleh eugen
bleuler yang mendefinisikan sebagai pemecahan pikirian (asal dari istilah
skizofrenia), emosi, dan perilaku, dengan tanda 4A: asosiasi (kemampuan untuk
menyambungkan suatu hal dengan hal yang lain), afeksi (latin afficere:
memengaruhi), autisme, dan ambivalensi (perasaan tidak yakin atau bercampur
atau pikiran yang berlawanan), 3. Oleh kurt schneider yang mendefinisikannya
sebagai first-rank symptom (yang terdiri dari halusinasi auditoris (gejala dari
psikosis fungsional), gangguan berfikir, broadcastion (seperti ada orang yang
berbicara), halusinasi somatik (halusinasi yang berasal dari tubuh, bukan dari
pikiran), persepsi delusional (seperti berkhayal atau berangan yang berlebihan),
suatu perasaan yang dihasilkan dari khayalan yang disebutkan) dan second-rank
symptom (yang terdiri dari delusi, persepsi delusional, referensi delusional (pasien
menunjuk seseorang yang tidak ada), hypnagogic hallutination (hypnagogic
didefinisikan sebagai keadaan sementara sebelum tidur), mania (keadaan sangat
bersemangat dan mengerjakan sesuatu yang nyata dan terlalu beresiko), passivity
(keadaan pasif, mania dan keadaan pasif ini merupakan gejala bipolar),
skizofrenia, thought alienation (diacuhkan oleh orang-orang sekitar akibat
pemikiran/halusinasinya)).
Merupakan sindrom (sindrom
merupakan kumpulan gejala subjektif (symptom, kebalikan dari sign) yang
seringkali muncul bersamaan secara konsisten atau keadaan yang memunculkan
banyak symptom yang khas) dengan variasi yang banyak, perjalanan peyakit yang
luas, serta akibat yang tergantung pada perimbangan pengaruh genetik, fisik (yang
berarti meskipun skizofrenia memiliki gejala fisik maupun genetik bukan berarti
dimasukkan dalam kategori psikosis organik), dan sosial budaya. Penyakit ini
ditandai dengan penyimpangan yang dapat dikenal dari gejala 4A (afektif,
asosiasi, ambivalensi, dan autisme, lihat penjelasan menurut eugene bleuler). Terdapat
disharmoni antara unsur-unsur kepribadian: pb, afek/emosi (latin afficere:
memengaruhi, perasaan), kemauan (dorongan naluriah untuk memenuhi kebutuhan
hidup), dan psikomotor (perhatikan bahwa keempat unsur ini adalah unsur utama
kepribadian seseorang). Kesadaran jernih dan kemampuan kognitif biasanya tidak
berkurang (kemampuan kognitif juga merupakan bagian dari kepribadian. Hal ini
berarti bahwa aspek kepribadian terganggu kecuali kognitif. Kemampuan kognitif
pun terkadang akan terganggu tetapi tidak langsung)
GEJALA-GEJALA SKIZORFRENIA
Gejala skizofrenia ada empat:
1.
Kontak dengan realitas tidak ada dan penderita
lebih sering berhubungan dengan khayalannya sendiri,
2.
Penderita seringkali sulit untuk diketahui
pembicaraannya karena meloncat-loncat (inkoheren),
3.
Pikiran, ucapan, dan perbuatan tidak sejalan (ketiganya
merupakan aspek kejiwaan). Pada penderitanya, ketiga aspek ini sering berjalan
sendiri (penderita dapat menceritakan cerita menyedihkan sambil tertawa), dan
4.
Adanya halusinasi.
POSITIVE AND NEGATIVE SYMPTOMS
Terjadi simptom (gejala yang
dirasakan) yang negatif dan positif pada pasien, di antaranya: alogia (kurang
bicara, pembicaraan yang tidak jelas. Masuk kepada autisme di 4A), affective
flattening (merupakan kurangnya ekspresi yang menceritakan emosi pasien,
gangguan pada aspek afeksi/emosi, juga pada 4A), avolition-apathy (kurangnya
motivasi dan keacuhan, keduanya merupakan gangguan kepribadian pada aspek
kemauan dan emosi, juga pada 4A), anhedonia-asociality (kurangnya perasaan
nikmat, aspek emosi. Dapat juga merupakan asosiasi pada 4A), dan attentional
impairment (autisme pada 4A) yang semuanya merupakan gejala negatif, halusinasi
(tanda ambivalensi 4A pada eugene), delusi (juga ambivalensi pada 4A), bizarre
behavour (autisme pada 4A), dan positive formal disorder (kelainan pemikiran
yang ditandai dengan bicara yang tidak teratur) yang merupakan gejala positif
dari skizofrenia.
PEDOMAN DIAGNOSTIK:
Sedikitnya satu gejala yang jelas
atau gejala yang kurang tajam dari kriteria-kriteria berikut:
a.
Pikiran:
Pikiran bergema, disisipi atau tercabut, atau disiarkan
b.
Waham:
Waham dikontrol, pengaruh, pasifitas, atau persepsi
c.
Halusinasi auditorik:
Suara
halusinasi yang berkomentar terhadap perilaku pasien, mendiskusikan perihal
pasien, atau jenis halusinasi auditorik yang berasal dari salah satu anggota
tubuh.
Paling sedikit dua gejala ini
harus selalu ada secara jelas: halusinasi yang menetap, arus pikiran yang
terputus atau mengalami sisipan (berakibat kepada inkoherensi perkataan),
perilaku katatonik (katatonia adalah pergerakan yang tidak normal yang berasal
dari gangguan jiwa), gejala-gejala negatif (dijelaskan sebelumnya), dan
gejala-gejala tersebut berlangsung minimal satu bulan.
JENIS-JENIS SKIZOFRENIA
Di sini, terdapat F20.0 sampai
dengan F20.9 (10 poin), sedangkan ditandai empat poin dari 10. Yaitu F20.0-2
serta F20.6 yang merupakan empat jenis yang penting. Keempat jenis tersebut
memiliki gejala yang menonjol. Pada skizofrenia paranoid (F20.0), isi pikiran
seseorang mengalami waham curiga dengan disertai kejaran, biasanya terjadi
berkelanjutan, pada heberfrenik (F20.1), terjadi bentuk pikiran, waham bizar,
dan regresi, waham ini terjadi episodik dan kemunduran progresif, pada
skizofrenia katatonik (F20.2), terjadi gangguan psikomotor, terjadi dengan
kemunduran stabil, pada F20.6 (simpleks), terjadi kemauan yang menurun.
Kriteria skizofrenia terdiri dari
dua kategori. Jika pasien memenuhi satu poin yang jelas atau dua poin yang tidak jelas dari poin pertama (poin
pertama terdiri dari pikiran aneh, waham aneh, halusinasi auditorik, dan waham
tak mungkin (tidak wajar secara budaya dan tak mungkin)), dan paling sedikit
dua gejala yang tidak jelas dari kelompok kriteria selanjutnya (terdiri dari halusinasi
menetap yang terjadi selama satu bulan atau lebih, atau disertai mengambang
tanpa kandungan afektif yang jelas, atau disertai ide berlebihan dan menetap,
inkoherensi (pembicaraan tidak relevan akibat arus pikiran yang tersisipi), dan
katatonia (gaduh, gelisah, mematung, fleksibilitas serta, negativisme, mutisme,
dan stupor), serta gejala negatif (sangat apatis, miskin pembicaraan, emosi
tumpul/tak serasi))
Setelah mendiagnosis pasien
menggunakan kriteria-kriteria tersebut, sebaiknya dokter mempertimbangkan 1. Gejala
berlangsung terus-menerus paling sedikit satu bulan, 2. Bila memenuhi kriteria
manik atau depresif, maka gejala psikotik awal (satu poin jelas atau dua poin
samar) harus mendahuluinya (jika tidak, mungkin diagnosis akan mengarah ke
penyakit lain, seperti gejala psikotik pasca depresi), dan 3. Tidak disebabkan
oleh penyakit otak atau intoksinasi atau lepas zat (sama seperti poin 2).
Pada skizofrenia paranoid, waham
halusinasi harus menonjol (dengan gejala negatif, gejala katatonik, atau
inkoherensi menonjol. Bila menonjol, maka dapat masuk ke diagnosis yang lain (simpatik,
heberfrenik, atau katatonik)). Pada skizofrenia hebrefrenik, harus terdapat
ekspresi afektif tumpul atau tidak serasi, harus terdapat salah satu dari
perilaku takbertujuan atau inkoherensi/pembicaraan tak menentu, dan
waham/halusinasi tidak menonjok (jika menonjol dimungkinkan skizofrenia tipe
paranoid). Pada skizofrenia katatnok, harus terdapat gejala yang menonjol dari
stupor atau mutisme, gaduh gelisah, mematung, negativisme, rigiditas,
fleksibilitas serea, dan otomatisme perintah selama dua minggu atau lebih (keadaan-keadaan
katatonik ini sangat membedakan skizofrenia tipe ini dari yang lain). Pada skizofrenia
tak terinci, tidak terdapat salah satu dari beberapa kriteria yang telah disebutkan
sebelumnya pada paragraf ini. pada skizofrenia simpleks, terjadi gangguan
kemauan yang menonjol (kemauan termasuk ke dalam gangguan-gangguan dasar
kepribadian), kedangkalan emosi (juga termasuk ke dalam gangguan kepribadian),
gangguan kepribadian skizoid (selain kognitif), kurang jelas gejala
psikotiknya, waham dan halusinasi jarang sekali terdapat (gangguan ini tidak
seperti ketiga gangguan penting lainnya), serta timbulnya perlahan-lahan
sekali. Sedangkan skizofrenia residual pada saat ini belum memenuhi kriteria
skizofrenia. Paling tidak terdapat paling sedikit empat dari gejala ini: 1. Perlambatan
psikomotor, ekspresi afektif tumpul (4A), pasif dan inisiatif kurang,
kemiskinan kuantitas dan isi pembicaraan, miskin komunikasi nonverbal (emosi,
4A), perawatan diri dan kinerja sosial yang buruk.
DEPRESI PASCASKIZOFRENIA
Merupakan gejala yang terjadi
pascaskizofrenia yang terjadi setelah 12 bulan mengalami kealainan. Salah satu gejala
psikotik kelompok kedua dari skizofrenia harus tetap ada (halusinasi mengambang
tanpa disertai gejala afektif, halusinasi yang terjadi satu bulan atau lebih,
atau ide yang berlebihan (tidak dalam satu bulan)), dan memenuhi kriteria
episode depresif yang menonjol paling sedikit dua minggu.
PERJALANAN PENYAKIT
Fase-fase pada skizofrenia: fase
prodormal (pada fase ini, seseorang memiliki gejala yang tidak khas dan sulit
untuk dibedakan dengan penyakit mental yang lain, seperti depresi), aktif (pada
fase ini banyak gejala aktif pada skizofrenia yang muncul dan bukan negatif),
dan residual (banyak gejala negatif yang timbul, seperti tumpulnya emosi,
gejala eksentrik, dan kurangnya gejala psikotik pada dirinya).
KEPARAHAN PENYAKIT
Keparahan penyakit dikaitkan
dengan: 1. Sekacau apakah pikiran seseorang, 2. Bagaimana pengaruhnya terhadap
perilaku (diasosiasikan dengan halusinasi perintah, halusinasi perintah adalah
halusinasi yang membuat orang seperti diperintah untuk mengerjakan sesuatu), 3.
Penderitaan yang dialami seseorang, dan 4. Separah apa terhadap gangguan fungsi
sosialnya (dikaitkan dengan lingkungan sekitarnya, biasanya orang dengan waham
curiga (skizofrenia paranoid) akan kesulitan).
EFEK
Keparahan yang terkait dengan
gejala negatifnya adalah isolasi sosial, apatisme (kurangnya kemauan untuk
mengekspresikan emosinya terhadap lingkungan), dan tidak mau mengekspresikan
perasaannya, sedangkan keparahan yang dikaitkan degnan fungsi kognitifnya
adalah konsentrasi lemah, daya ingat lemah, tidak mampu membuat suatu keputusan
sederhana, dan tidak mampu menginterpretasi tanda-tanda sosial.
BUNUH DIRI PADA SKIZOFRENIA
10% kejadian terjadi pada orang
dengan kondisi tersebut (bisa dikaitkan dengan waham perintah, dapat juga
dikaitkan dengan kondisi depresi pascaskizofrenia), dengan kejadian yang lebih
tinggi pada orang dengan onset awal skizofrenia (setahun pertama), relatif
orang yang lebih muda bunuh diri, lebih besar pada yang tidak menikah degngan
riwayat percobaan bunuh diri (hadirnya pasangan terkadang dapat membantu pasien
dalam rehabilitasi), dan sedikit sekali karena mengikuti halusinasi atau
paranoidnya (seperti yang telah disebutkan sebelumnya).
PENATALAKSANAAN
FAKMAKOTERAPI
TERAPI PSIKOSOSIAL
Termasuk ke dalamnya terapi
perilaku, keluarga, grup, dan psikoterapi individual
PROGNOSIS
Pasien 70% sd 80% kambuh dalam
waktu dua bulan tanpa pengobatan, sedangkan dengan pengobatan akan berkurang kekambuhan
sebesar 30%. Faktor-faktor yang berkaitan dengan prognosis adalah keturunan,
usia pertama kali terkena skizofrenia, jenis skizofrenia, kecepatan penanganan,
kepatuhan minum obat, peran keluarga, bekerja atau tidak ,menikah atau tidak,
dan pendidikan.
TANTANGAN KLINISI
Banyak tantangan yang dihadapi
oleh klinisi dalam menangani pasien skizofrenia. Di antaranya adalah stigma
keluarga atau lingkungan sosial, pemahaman pasien yang terganggu sehingga sulit
untuk menjelaskan kepada pasien atau pasien sulit minum obat, dan kepatuhan
pasien terhadap minum obat seringkali berubah-ubah.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar