Minggu, 15 Oktober 2017

Skizofrenia

SKIZOFRENIA

Arti sebenarnya dari skizofrenia ada kepribadian yang terbelah (gejala khas dari skizofrenia adalah kepribadian yang terpecah antara pikiran, perasaan, dan perbuatan  atau disharmoni ketiga unsur tadi). Angka kejadiannya adalah 1% dari jumlah penduduk (umum), tidak terkati budaya dan suku, dan onset (kemunculan pertama) pada laki-laki biasanya lebih awal (15-24 tahun) daripada wanita (25-34 tahun).

Penyebab dari skizofrenia tidak diketahui secara pasti. Yang diterima saat ini adalah teori yang menyatakan bahwa kejadian ini terjadi secara multifaktorial: faktor internal pencetusnya adalah dari genetik (seseorang yang memiliki orang tua dengan skizofrenia cenderung beresiko mengidapnya), bawaan, dan biokimia, dan faktor eksternal pencetusnya dari trauma, infeksi otak, dan stres. Faktor penyebab (faktor resiko) dari skizofrenia berasal dari keturunan (disebutkan sebelumnya), pola asuh yang salah (faktor eksternal psikologis), maladaptasi (kesalahan adaptasi psikologis dari stres yang mengganggu), tekanan jiwa (termasuk ke dalam maladaptasi yang berat), dan penyakit lain yang belum diketahui (beberapa sudah).

Gangguan jiwa terdiri dari psikosis dan neurosis. Psikosis terbagi lagi menjadi dua, organik yang terdiri dari demensia, delirium dan GMP akibat zat, sedangkan fungsional terdiri dari gangguan psikotik akut, skizofrenia, waham, dan gangguan suasana perasaan.
Sedangkan gangguan neurosis terdiri dari reaksi stres akut, gangguan penyesuaian, ansietas (fobia, panik, ocd), disosiasi/konversi, dan lain-lain.

DEFINISI PSIKOSIS

Menurut Singgih D. Gunarsa, psikosis adalah gangguan jiwa yang meliputi keseluruhan kepribadian, sehingga penderita tidak bisa menyesuaikan diri dalam norma-norma hidup yang wajar dan berlaku umum. Menurut W.F Maramis, psikosis adalah suatu gangguan dengan kehilangan rasa kenyataan (sense of reality).

Kelainan seperti ini dapat diketahui berdasarkan gangguan-gangguan pada perasaan, pikirian, kemauan, motorik, dst. (menurut pengertian Singgih, perhatikan kata-kata “keseluruhan kepribadian” pada deskripsi Singgih) sedemikian berat sehingga perilaku penderita tidak sesuai lagi dengan kenyataan (perhatikan deskripsi Maramis pada kalimat “kehilangan rasa kenyataan”).
Perilaku penderita psikosis tidak dapat dimengerti oleh orang normal (kehilangan rasa kenyataan), sehingga seringkali disebut sebagai orang gila.

PSIKOSIS ORGANIK

Terdiri dari demensia, delirium, dan GMP akibat zat (perhatikan pembagian di atas). Psikosis organik adalah penyakit jiwa yang disebabkan oleh faktor-faktor fisik atau organik (faktor-faktor fisiologis yang dapat dikuantitasi faktornya). Pasien seringkali mengalami gangguan sosial sebagai akibat dari inkompetensinya dalam bersosialisasi.

PSIKOSIS FUNGSIONAL

Merupakan penyakit jiwa yang bersifat nonorganik (berlawanan dengan psikosis organik. Perhatikan pengertian skizofrenia di awal teks. Skizofrenia merupakan penyakit yang bersifat multifaktorial, teori menegaskan bahwa skizofrenia memiliki penyebab yang bersifat organik. hal ini merupakan usaha teoriawan untuk mendefinisikan skizofrenia agar dapat ditemukan obat yang dapat menyembuhkan minimal gejalanya (teori pada obat merupakan teori lock and key yang sangat organik)). Penderita juga mengalami inkompetensi sosial, tetapi ditambah dengan gagal menyesuaikan diri terhadap realitas.

Perbedaan psikotik organik dari organik terdiri dari: 1. Adanya penyakit fisik (pada fungsional tidak ada, penyakit fisik di sini merupakan penyakit penyerta. Perubahan fisik pada penderita psikotik fungsional juga didapatkan, telah dijelaskan sebelumnya), 2. Gangguan orientasi (pada penyakit psikotik fungsional tidak ada gangguan orientasi yang lebih banyak disebabkan oleh gangguan fisik yang mendasarinya), 3. Gangguan daya ingat (pada psikotik fungsional, daya ingat masih baik. Daya ingat ini yang merupakan gejala khas dari salah satu penyakit psikotik organik, juga dilandasi oleh adanya perubahan faktor fisik), 4. Gangguan fungsi kognitif (pada psikotik fungsional, tidak didapati adanya gangguan kepandaian), 5. Gejala fluktuatif (pada psikotik fungsional, gejala menetap sehingga sulit untuk disembuhkan), 6. Halusinasi visual (hal ini hanya merupakan kecenderungan. Beberapa penyakit fungsional juga melibatkan halusinasi visual, selain pendengaran), dan 7. Defisit neurologis (pada fungsional tidak didapatkan kelainan ini, meskipun terkadang kelainan ini melandasi/menjadi faktor resiko terjadinya psikotik fungsional)

Sedangkan perbedaan psikosis dari neurosis dilihat dari 1. Perilaku umum (gangguan terjadi pada seluruh aspek kepribadian (lihat definisi singgih), sedangkan pada neurosis terjadi perubahan sebagian aspek kepribadian dan kontak realitas masih terdapat), 2. Gejala-gejala (gangguan psikosis ditandai dengan gejala yang bervariasi luas, mulai dari waham, halusinasi, kedangkalan emosi, dst yang dapat terjadi secara terus-menerus, sedangkan pada neurosis gejala psikologis dan somatis dapat bervriasi, temporer dan ringan (tidak terlihat)), 3. Orientasi (pada psikosis, penderiat sering mengalami disorientasi, lain halnya dengan neurosis), 4. Pemahaman (insight, penderita psikosis tidak memahami bahwa dirinya sakit, pada neurosis penderita memahami bahwa dirinya mengalami gangguan mood), 5. Resiko sosial (penderita psikosis terkadang membahayakan orang lain disebabkan wahamnya atau membahayakan diri sendiri, sedangkan penderita neurosis tidak membahayakan orang lain, tetapi diri sendiri. Hal ini disebabkan oleh tidak adanya orang lain yang mengetahui penderita neurosis, kecuali beberapa orang), 6. Penyembuhan (penderita psikosis sulit untuk dapat kembali kepada keadaan semula dan harus dirawat di rumah sakit, lain halnya dengan penderita neurosis).

SKIZOFRENIA
Beberapa konsep skizofrenia yang telah diajukan: 1. Demensia prekoks oleh Emil kraepelin (demensia prematur, demensia termasuk ke dalam psikosis organik. emil kraepelin di sini memasukkan skizofrenia ke dalam gangguan psikosis organik, yang berarti psikosis yang penurunan grafiknya tajam dan ditandai oleh disintegrasi kognitif), 2. Oleh eugen bleuler yang mendefinisikan sebagai pemecahan pikirian (asal dari istilah skizofrenia), emosi, dan perilaku, dengan tanda 4A: asosiasi (kemampuan untuk menyambungkan suatu hal dengan hal yang lain), afeksi (latin afficere: memengaruhi), autisme, dan ambivalensi (perasaan tidak yakin atau bercampur atau pikiran yang berlawanan), 3. Oleh kurt schneider yang mendefinisikannya sebagai first-rank symptom (yang terdiri dari halusinasi auditoris (gejala dari psikosis fungsional), gangguan berfikir, broadcastion (seperti ada orang yang berbicara), halusinasi somatik (halusinasi yang berasal dari tubuh, bukan dari pikiran), persepsi delusional (seperti berkhayal atau berangan yang berlebihan), suatu perasaan yang dihasilkan dari khayalan yang disebutkan) dan second-rank symptom (yang terdiri dari delusi, persepsi delusional, referensi delusional (pasien menunjuk seseorang yang tidak ada), hypnagogic hallutination (hypnagogic didefinisikan sebagai keadaan sementara sebelum tidur), mania (keadaan sangat bersemangat dan mengerjakan sesuatu yang nyata dan terlalu beresiko), passivity (keadaan pasif, mania dan keadaan pasif ini merupakan gejala bipolar), skizofrenia, thought alienation (diacuhkan oleh orang-orang sekitar akibat pemikiran/halusinasinya)).
Merupakan sindrom (sindrom merupakan kumpulan gejala subjektif (symptom, kebalikan dari sign) yang seringkali muncul bersamaan secara konsisten atau keadaan yang memunculkan banyak symptom yang khas) dengan variasi yang banyak, perjalanan peyakit yang luas, serta akibat yang tergantung pada perimbangan pengaruh genetik, fisik (yang berarti meskipun skizofrenia memiliki gejala fisik maupun genetik bukan berarti dimasukkan dalam kategori psikosis organik), dan sosial budaya. Penyakit ini ditandai dengan penyimpangan yang dapat dikenal dari gejala 4A (afektif, asosiasi, ambivalensi, dan autisme, lihat penjelasan menurut eugene bleuler). Terdapat disharmoni antara unsur-unsur kepribadian: pb, afek/emosi (latin afficere: memengaruhi, perasaan), kemauan (dorongan naluriah untuk memenuhi kebutuhan hidup), dan psikomotor (perhatikan bahwa keempat unsur ini adalah unsur utama kepribadian seseorang). Kesadaran jernih dan kemampuan kognitif biasanya tidak berkurang (kemampuan kognitif juga merupakan bagian dari kepribadian. Hal ini berarti bahwa aspek kepribadian terganggu kecuali kognitif. Kemampuan kognitif pun terkadang akan terganggu tetapi tidak langsung)
GEJALA-GEJALA SKIZORFRENIA
Gejala skizofrenia ada empat:
1.       Kontak dengan realitas tidak ada dan penderita lebih sering berhubungan dengan khayalannya sendiri,
2.       Penderita seringkali sulit untuk diketahui pembicaraannya karena meloncat-loncat (inkoheren),
3.       Pikiran, ucapan, dan perbuatan tidak sejalan (ketiganya merupakan aspek kejiwaan). Pada penderitanya, ketiga aspek ini sering berjalan sendiri (penderita dapat menceritakan cerita menyedihkan sambil tertawa), dan
4.        Adanya halusinasi.
POSITIVE AND NEGATIVE SYMPTOMS
Terjadi simptom (gejala yang dirasakan) yang negatif dan positif pada pasien, di antaranya: alogia (kurang bicara, pembicaraan yang tidak jelas. Masuk kepada autisme di 4A), affective flattening (merupakan kurangnya ekspresi yang menceritakan emosi pasien, gangguan pada aspek afeksi/emosi, juga pada 4A), avolition-apathy (kurangnya motivasi dan keacuhan, keduanya merupakan gangguan kepribadian pada aspek kemauan dan emosi, juga pada 4A), anhedonia-asociality (kurangnya perasaan nikmat, aspek emosi. Dapat juga merupakan asosiasi pada 4A), dan attentional impairment (autisme pada 4A) yang semuanya merupakan gejala negatif, halusinasi (tanda ambivalensi 4A pada eugene), delusi (juga ambivalensi pada 4A), bizarre behavour (autisme pada 4A), dan positive formal disorder (kelainan pemikiran yang ditandai dengan bicara yang tidak teratur) yang merupakan gejala positif dari skizofrenia.
PEDOMAN DIAGNOSTIK:
Sedikitnya satu gejala yang jelas atau gejala yang kurang tajam dari kriteria-kriteria berikut:
a.       Pikiran:
Pikiran bergema, disisipi atau tercabut, atau disiarkan
b.      Waham:
Waham dikontrol, pengaruh, pasifitas, atau persepsi
c.       Halusinasi auditorik:
Suara halusinasi yang berkomentar terhadap perilaku pasien, mendiskusikan perihal pasien, atau jenis halusinasi auditorik yang berasal dari salah satu anggota tubuh.
Paling sedikit dua gejala ini harus selalu ada secara jelas: halusinasi yang menetap, arus pikiran yang terputus atau mengalami sisipan (berakibat kepada inkoherensi perkataan), perilaku katatonik (katatonia adalah pergerakan yang tidak normal yang berasal dari gangguan jiwa), gejala-gejala negatif (dijelaskan sebelumnya), dan gejala-gejala tersebut berlangsung minimal satu bulan.
JENIS-JENIS SKIZOFRENIA
Di sini, terdapat F20.0 sampai dengan F20.9 (10 poin), sedangkan ditandai empat poin dari 10. Yaitu F20.0-2 serta F20.6 yang merupakan empat jenis yang penting. Keempat jenis tersebut memiliki gejala yang menonjol. Pada skizofrenia paranoid (F20.0), isi pikiran seseorang mengalami waham curiga dengan disertai kejaran, biasanya terjadi berkelanjutan, pada heberfrenik (F20.1), terjadi bentuk pikiran, waham bizar, dan regresi, waham ini terjadi episodik dan kemunduran progresif, pada skizofrenia katatonik (F20.2), terjadi gangguan psikomotor, terjadi dengan kemunduran stabil, pada F20.6 (simpleks), terjadi kemauan yang menurun.
Kriteria skizofrenia terdiri dari dua kategori. Jika pasien memenuhi satu poin yang jelas atau dua poin yang tidak jelas dari poin pertama (poin pertama terdiri dari pikiran aneh, waham aneh, halusinasi auditorik, dan waham tak mungkin (tidak wajar secara budaya dan tak mungkin)), dan paling sedikit dua gejala yang tidak jelas dari kelompok kriteria selanjutnya (terdiri dari halusinasi menetap yang terjadi selama satu bulan atau lebih, atau disertai mengambang tanpa kandungan afektif yang jelas, atau disertai ide berlebihan dan menetap, inkoherensi (pembicaraan tidak relevan akibat arus pikiran yang tersisipi), dan katatonia (gaduh, gelisah, mematung, fleksibilitas serta, negativisme, mutisme, dan stupor), serta gejala negatif (sangat apatis, miskin pembicaraan, emosi tumpul/tak serasi))
Setelah mendiagnosis pasien menggunakan kriteria-kriteria tersebut, sebaiknya dokter mempertimbangkan 1. Gejala berlangsung terus-menerus paling sedikit satu bulan, 2. Bila memenuhi kriteria manik atau depresif, maka gejala psikotik awal (satu poin jelas atau dua poin samar) harus mendahuluinya (jika tidak, mungkin diagnosis akan mengarah ke penyakit lain, seperti gejala psikotik pasca depresi), dan 3. Tidak disebabkan oleh penyakit otak atau intoksinasi atau lepas zat (sama seperti poin 2).
Pada skizofrenia paranoid, waham halusinasi harus menonjol (dengan gejala negatif, gejala katatonik, atau inkoherensi menonjol. Bila menonjol, maka dapat masuk ke diagnosis yang lain (simpatik, heberfrenik, atau katatonik)). Pada skizofrenia hebrefrenik, harus terdapat ekspresi afektif tumpul atau tidak serasi, harus terdapat salah satu dari perilaku takbertujuan atau inkoherensi/pembicaraan tak menentu, dan waham/halusinasi tidak menonjok (jika menonjol dimungkinkan skizofrenia tipe paranoid). Pada skizofrenia katatnok, harus terdapat gejala yang menonjol dari stupor atau mutisme, gaduh gelisah, mematung, negativisme, rigiditas, fleksibilitas serea, dan otomatisme perintah selama dua minggu atau lebih (keadaan-keadaan katatonik ini sangat membedakan skizofrenia tipe ini dari yang lain). Pada skizofrenia tak terinci, tidak terdapat salah satu dari beberapa kriteria yang telah disebutkan sebelumnya pada paragraf ini. pada skizofrenia simpleks, terjadi gangguan kemauan yang menonjol (kemauan termasuk ke dalam gangguan-gangguan dasar kepribadian), kedangkalan emosi (juga termasuk ke dalam gangguan kepribadian), gangguan kepribadian skizoid (selain kognitif), kurang jelas gejala psikotiknya, waham dan halusinasi jarang sekali terdapat (gangguan ini tidak seperti ketiga gangguan penting lainnya), serta timbulnya perlahan-lahan sekali. Sedangkan skizofrenia residual pada saat ini belum memenuhi kriteria skizofrenia. Paling tidak terdapat paling sedikit empat dari gejala ini: 1. Perlambatan psikomotor, ekspresi afektif tumpul (4A), pasif dan inisiatif kurang, kemiskinan kuantitas dan isi pembicaraan, miskin komunikasi nonverbal (emosi, 4A), perawatan diri dan kinerja sosial yang buruk.
DEPRESI PASCASKIZOFRENIA
Merupakan gejala yang terjadi pascaskizofrenia yang terjadi setelah 12 bulan mengalami kealainan. Salah satu gejala psikotik kelompok kedua dari skizofrenia harus tetap ada (halusinasi mengambang tanpa disertai gejala afektif, halusinasi yang terjadi satu bulan atau lebih, atau ide yang berlebihan (tidak dalam satu bulan)), dan memenuhi kriteria episode depresif yang menonjol paling sedikit dua minggu.
PERJALANAN PENYAKIT
Fase-fase pada skizofrenia: fase prodormal (pada fase ini, seseorang memiliki gejala yang tidak khas dan sulit untuk dibedakan dengan penyakit mental yang lain, seperti depresi), aktif (pada fase ini banyak gejala aktif pada skizofrenia yang muncul dan bukan negatif), dan residual (banyak gejala negatif yang timbul, seperti tumpulnya emosi, gejala eksentrik, dan kurangnya gejala psikotik pada dirinya).
KEPARAHAN PENYAKIT
Keparahan penyakit dikaitkan dengan: 1. Sekacau apakah pikiran seseorang, 2. Bagaimana pengaruhnya terhadap perilaku (diasosiasikan dengan halusinasi perintah, halusinasi perintah adalah halusinasi yang membuat orang seperti diperintah untuk mengerjakan sesuatu), 3. Penderitaan yang dialami seseorang, dan 4. Separah apa terhadap gangguan fungsi sosialnya (dikaitkan dengan lingkungan sekitarnya, biasanya orang dengan waham curiga (skizofrenia paranoid) akan kesulitan).
EFEK
Keparahan yang terkait dengan gejala negatifnya adalah isolasi sosial, apatisme (kurangnya kemauan untuk mengekspresikan emosinya terhadap lingkungan), dan tidak mau mengekspresikan perasaannya, sedangkan keparahan yang dikaitkan degnan fungsi kognitifnya adalah konsentrasi lemah, daya ingat lemah, tidak mampu membuat suatu keputusan sederhana, dan tidak mampu menginterpretasi tanda-tanda sosial.
BUNUH DIRI PADA SKIZOFRENIA
10% kejadian terjadi pada orang dengan kondisi tersebut (bisa dikaitkan dengan waham perintah, dapat juga dikaitkan dengan kondisi depresi pascaskizofrenia), dengan kejadian yang lebih tinggi pada orang dengan onset awal skizofrenia (setahun pertama), relatif orang yang lebih muda bunuh diri, lebih besar pada yang tidak menikah degngan riwayat percobaan bunuh diri (hadirnya pasangan terkadang dapat membantu pasien dalam rehabilitasi), dan sedikit sekali karena mengikuti halusinasi atau paranoidnya (seperti yang telah disebutkan sebelumnya).
PENATALAKSANAAN
FAKMAKOTERAPI
TERAPI PSIKOSOSIAL
Termasuk ke dalamnya terapi perilaku, keluarga, grup, dan psikoterapi individual
PROGNOSIS
Pasien 70% sd 80% kambuh dalam waktu dua bulan tanpa pengobatan, sedangkan dengan pengobatan akan berkurang kekambuhan sebesar 30%. Faktor-faktor yang berkaitan dengan prognosis adalah keturunan, usia pertama kali terkena skizofrenia, jenis skizofrenia, kecepatan penanganan, kepatuhan minum obat, peran keluarga, bekerja atau tidak ,menikah atau tidak, dan pendidikan.
TANTANGAN KLINISI

Banyak tantangan yang dihadapi oleh klinisi dalam menangani pasien skizofrenia. Di antaranya adalah stigma keluarga atau lingkungan sosial, pemahaman pasien yang terganggu sehingga sulit untuk menjelaskan kepada pasien atau pasien sulit minum obat, dan kepatuhan pasien terhadap minum obat seringkali berubah-ubah. 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar