KELAINAN EYELID (PALPEBRA)
EYELID FUNCTIONS
Fungsi-fungsi kelopak mata: 1. Untuk melindungi bola mata secara
fisika dan kimia, 2. Untuk irigasi dan lubrikasi (melumuri dengan sesuatu suatu
komponen untuk meminimalkan gesekan dan memudahkan pergerakan, terutama yang
halus) dengan air mata dan sekresi kelenjar-kelenjar palpebral, dan untuk mengedip
(menggunakan otot levator sebagai pengangkat dan obturator untuk menutup)
EYELID CLOSURE
Dibantu oleh otot orbicularis
oculi (latin orbis: cincin) yang dipersarafi oleh N.VII (N. facialis). Bagian preseptal
(septum palpebral merupakan bagian yang membatasi bagian anterior bola mata dan
palpebra) dan pretarsalnya (tarsal merupakan tendon otot levator palpebral yang
berinsersio ke palpebra) merupakan origo. Seratnya berlanjut ke daerah atas
kantung lakrimalis dan jika berkontraksi akan meningkatkan ekskresi lakrimalis
TO OPEN THE EYELID
Dibantu oleh otot levator
palpebral yang memunyai insersio di bagian anterior tarsal (dijelaskan
sebelumnya).
TRIKIASIS
Pada bagian ini, penjabaran
mengenai penyakit dimulai. Trikiasis merupakan bulu yang salah arah tumbuhnya
dibandingkan dengan asal yang normal. Jika dibiarkan lebih lanjut, dapat
terjadi ulserasi kornea (yang juga merupakan komplikasi tersering dari
konjungtivitis) dan terbentuknya pannus (cloth, seperti pada pembekuan darah). Tatalaksananya
adalah dengan epilasi (pencabutan bulu mata yang tidak normal), elektrolisis (menggunakan
panas yang berasal dari daya listrik), krioterapi (menggunakan dingin yang
ekstrim untuk pengobatan), menggunakan laser yang berasal dari argon, dan
operasi.
MASUKNYA TEPI PALPEBRA
Pada involutional entropion (penyakit
degeneratif), terjadi degenerasi jaringan fibrosa dan elasitis (jaringan
konektif elastis memberikan elastisitas, dapat memanjang) pada kelopak mata. Pada
entropion sikatrik, terjadi skar (pertumbuhan jaringan fibrosa berlebihan,
biasanya setelah luka) yang dapat menarik palpebra ke arah bola mata. Pada entropion
kongenital terjadi kelainan yang merupakan akibat dari mikroftalmos (yunani,
micros: kecil dan ophthalmos: mata) atau perkembangan yang kurang baik dari
otot retraktor palpebral inferior.
ECTROPION
Merupakan kejadian palpebra mengarah
ke luar (perhatikan bahwa posisi bola mata yang terlalu mengarah ke dalam
maupun ke luar merupakan kondisi yang tidak baik bagi mata). Dapat diklasifikasikan
sebagai ektropion involusional (sama halnya dengan entropion involusional,
keadaan ini merupakan efek degeneratif), ektropion sikatrik (kejadian
penumpukan skar pada palpebra yang menyebabkan bulu mata mengarah ke luar),
ektropion paralitik (merupakan kelainan yang terjadi karena paralisis N.VII (N.VII
merupakan saraf yang menggerakkan otot orbikularis, jika otot ini tidakdapat
berkontraksi maka terjadi kelemahan dan kelopak mata yang mengarah ke luar)),
dan ektropi mekanis (merupakan efek dari stres mekanis).
LAGOPHTHALMOS
(inggris lag: memanjang dan latin
ophthalmos: mata, keadaan penampakan mata yang membesar disebabkan oleh
melebarnya palpebra) Merupakan kelemahan dalam menutup mata. Kejadian ini
banyak terjadi setelah blepharoplasty (yunani, blepharon kelopak mata, plasmos:
membentuk, merupakan operasi untuk membentuk kelopak mata), pada ektropi
paralitik (yang terjadi pada kelemahan N.VII), dan setelah pembetulan ptosis (ptosis
adalah kelemahan otot levator palpebrae yang menyebabkan kelopak mata terlihat
seperti kendur).
LID LAG
Merupakan kejadian terlambatnya
penutupan kelopak mata atas, seringkali diasosiasikan dengan retraksi kelopak
mata (retraksi menyebabkan kelopak mata tertarik ke arah atas (retraksi otot
levator palpebral yang dipersarafi oleh N.III)).
PTOSIS
Merupakan kejadian posisi kelopak
mata atas abnormal yang dapat berupak efek kongenital maupun didapatkan (acquired),
sedangkan pseudoptosis (yunani pseudes: false) dapat disebabkan oleh kekurangan
penyangga (terjadi pada beberapa otot), retraks kelopak kontralateral (bagian
kontralateral dari kelopak mengalami retraksi, mata seperti melotot sebagian),
ptosis ipsilateral (ptosis yang terjadi pada salah satu mat (dextra/sinistra)),
brow ptosis (kulit alis yang berlebihan), dan dermatokalasis (berlebihannya
kulit kelopak mata). Pengukuran ptosis dilakukan dengan cara margin reflex distance (dengan mengukur
ukuran margin antarkelopak mata (atas dan bawah), ukuran normal kelopak mata
adalah 9mm, 4mm atas dan 5mm bawah, dilakukan juga tes refleks cahaya),
vertical fissure heigt (merupakan pemisahan antara margin atas dengan tengah
pupil dan margin bawah degan tengah pupil, jika terjadi gap yang jauh,
dimungkinkan terjadi paralisis), levator function (dilakukan dengan mengukur ukuran
margin palpebral atas dengan penggaris saat dimulai saat pandangan ke arah
bawah sampai pandangan ke arah atas, ukuran normal pengukuran ini adalah 15mm),
upper lid crease (merupakan jarak antara margin kelopak mata sampai lid crease
pada saat seseorang melihat ke bawah. Normalnya, wanita memiliki 10 mm upper
lid crease dan pria memiliki 8 mm upper lid crease), pretarsal show (merupakan
pengukuran yang dilakukan ketika mata terbuka, jarak antara margin kelopak
sampai garis atasnya normalnya adalah 6mm).
RETRAKSI KELOPAK MATA
Terdapat ketika kelopak mata
tertarik ke arah atas (untuk kelopak mata atas) dan bawah (untuk kelopak mata
bawah), membuat sklera terlihat di antara limbus dan margin kelopak mata. Normalnya,
manusia memiliki kelopak mata bawah yang sedikit turun. Keadaan ini akan
menyebabkan lagophthalmus (inggris lag: memanjang, latin ophthalmos: mata, penampakan
mata melebar) dan exposure keratitis (disebabkan oleh sulitnya menutup mata (retraksi
membuat mata sulit menutup)). Penyebabnya dapat berupa lokal, sistemik, maupun
kelainan SSP. Yang paling sering menjadi penyebab retraksi adala grave
ophthalmopathy (penyakit tiroid yang menyebabkan penampakan mata membesar). Tatalaksana
untuk retraksi ini adalah dengan menyembuhkan faktor etiologis yang
menyebabkannya, memberikan air mata buatan, lubrikasi, dan salep mata (ditujukan
agar mata tidak kering), dan operasi jika memungkinkan
APPARATUS LACRIMALIS
(latin ad: terhadap/menuju dan
parare: membuat siap, digabung menjadi bersiap) terdiri dari kelenjar
lakrimalis dan sistem drainasenya (sistem untuk mengalirkan air mata melalui
hidung) yang terdiri dari puncta (latin punctum: titik, tempat air mata mengalir
dari bola mata menuju kantung lakrimalis, berbentuk titik), kanalikuli (saluran
atau duktus yang kecil, kanalikuli merupakan bentuk jamak dari kanalikulus,
mengalir melalui dua jalur, supraampul dan infraampul), kantung lakrimalis (latin
saccus: tas, kantung) yang biasanya ditekan untuk mencegah lakrimasi, dan
nasolacrimal duct (latin ductus: menunjukkan. Sebuah saluran yang lebih besar
dari kanalikulus).
PENYEBAB BECEK
Terdiri dari aspek lakrimasi bila
terjadi hipersekresi akibat inflamasi pada daerah mata dan epifora yang
merupakan bentuk adaptif kompromisasi oleh proses pembuangan air mata yang
merupakan efek dari malposisi, obstruksi, dan kegagalan pompa lakrimasi
EPICANTUS
Adalah lipatan medial dari canthus
yang terjadi karena tulang midfasial yang imatur atau lipatan pada kulit atau
jaringan subkutan. Biasanya terdapat bilateral. Seorang anak dapat terlihat
seperti strabismus (jereng) disebabkan oleh keadaan tersebut (pseudostrabismus.
Logis terjadi disebabkan oleh adanya penumpukan jaringan di daerah medial dan
menyebabkan tidak terlihatnya sklera pada daerah tersebut). Terdapat empat tipe
epikantus: 1. Epicanthus tarsalis yang banyak mengalami pelipatan pada daerah
kelopak mata atas (tarsal adalah jaringan ikat padat serupa tendon yang hanya
terdapat di kelopak atas), 2. Epicanthus inversus yang memiliki lipatan paling banyak
di bagian kelopak bawah, 3. Epicanthus palpebralis yang memiliki lipatan di
kelopak atas dan bawah, dan epicanthus supraciliaris yang memiliki lipatan
menjalar dari daerah alis sampai ke saccus lakrimalis.
KALAZION
Merupakan inflamasi granulomatus
steril dan kronik. Merupakan hasil dari penyumbatan orificium glandula
meibomialis (latin or: mulut dan facere: membuat). Gejala dari kalazion ini
adalah terdapatnya nodul membesar yang tidak sakit, tetapi dapat menekan kornea
dan akan menimbulkan astigmatisme dan berakhir pada kaburnya pandangan (kornea
merupakan alat refraksi mata yang utama dan kelainan yang terjadi pada kornea
akan membuat pandangan kabur disebabkan oleh adanya refraksi cahaya). Tidak ada
tanda-tanda inflamasi dan diterapi menggunakan drainase dan pengambilan
operatif dengan
Tidak ada komentar:
Posting Komentar