Sabtu, 18 November 2017

Gangguan Kepribadian

GANGGUAN KEPRIBADIAN

KEPRIBADIAN

merupakan pola khas (yang berbeda pada setiap orang) yang digunakan seseorang dalam memandang, berhubungan dengan, atau berpikir tentang lingkungan dan dirinya sendiri. kepribadian dipengaruhi oleh tiga faktor: faktor situasional (faktor di sekitar seseorang), faktor tumbuh kembang (sesuai teori freud), dan faktor konstitusional (usia, jenis kelamin, dan keturunan).

TEORI PSIKOANALISIS FREUD

(sigmund freud memaparkan teori yang menyatakan bahwa perkembangan manusia dipengaruhi oleh libido yang terbagi dalam empat fasi) perkembangan aspek psikologi manusia berkembang melalui empat fase: fase anal (pada fase ini, anak-anak banyak menyatakan perasaannya melalui mulut, dan dipengaruhi oleh makanan yang dikonsumsinya. jika seorang anak pasif secara oral, anak tersebut mengungkapkan rasa percaya dan dependensi terhadap orang tua. sebaliknya, jika seorang anak agresif secara oral, maka dia mengungkapkan rasa agresif dan mendominasi), fase anal (fase toilet training, fase pada umur satu sampai tiga tahun. pada fase ini anak sudah mulai dapat mengatur sfingter analnya. jika orang tua bersifat memberikan apresiasi jika anak baik dalam toilet trainingnya, anak akan sukses melalui tahap ini. orang tua yang memaksakan kehendak pada anaknya akan memberikan stresor yang dapat direspons negatif oleh anak), fase falik (merupakan fase pada usia tiga sampai enam tahun. pada fase ini anak memiliki rasa ingin tahu terhadap kemaluannya. jika ada kesalahan pengaturan oleh keluarga, anak akan merasakan kecemburuan, inferioritas, ketidakcukupan, obsesi diri, kecemasan seksual, dan narsisitas), dan fase genitalia (pada fase ini seseorang dapat merasakan rasa cinta satu sama lain terhadap orang lain. jika fase ini terlewati dengan baik, seseorang akan memiliki sikap dewasa, dapat mencintai dan dicintai, dan pengendalian diri. insting ini terbentuk oleh adanya kecenderungan heteroseksual).

ERIK ERIKSON’S PSYCHOSOCIAL DEVELOPMENT

\Merupakan tabel (yang merupakan tabel yang memperjelas pembagain atas dasar teori psikoanalisis freud) yang mengandung tahap perkembangan seseorang menurut usianya. terdpat tiga fase (masa kanak-kanak, transisi, dan dewasa) yang dibagi lagi menjadi delapan bagian (tahun pertama kehidupan, kedua, ketiga sampai lima, dan keenam, masa remaja, dewasa awal, umur tengah, dan tua). pada masa awal kehidupan (tahun pertama sampai umur 18 bulan, disebut juga fase oral-sensoris), seseorang akan menjalani adaptasi menurut mulutnya, jika bayi diberi kepercayaan (orangtua/pengasuh lebih mudah memberinya makan), maka bayi akan mudah mempercayai seseorang (yang dapat berarti hal yang tidak baik). jika bayi ditahan untuk makan dan terus merengek, bayi akan mengembangkan rasa kepercayaan pada orang-orang di sekitarnya. pada masa kedua (tahun kedua sampai ketiga hidupnya, disebut juga fase muskuler-anal), seseorang akan menjalani masa toilet training yang akan melatihnya kepada perkembangan kemampuan fisiknya, seperti berjalan, memegang, dan kontrol otot sfingter pencernaan. jika tidak ditangani dengan baik, seorang anak akan menjadi pemalu dan peragu. jika ditangani dengan baik, seseorang akan dapat mengontrol dirinya (seperti mengontrol kapan harus ke kamar mandi dan kapan harus melepaskan dahaganya) pada fase ketiga (fase ketiga hidup, disebut juga fase lokomotor. fase ini terjadi pada tahun ketiga sampai keenam hidup), seseorang akan mempelajari kepercayadirian dan inisiasi, tetapi akan memiliki rasa kekerasan dan dominasi jika tidak menjalaninya dengan baik. pada fase keempat (umur keenam sampai ke-12 hidup, disebut juga fase latensi), seseorang mulai mempelajari bagaimana untuk dapat bertahan dan eksis dari kegagalan dan keinginan untuk mempelajari kemampuan baru guna berdamai dengan kegagalan tersebut. jika gagal, seseorang akan mengalami inferioritas, rasa gagal dan ketidakmampuan. pada fase selanjutnya (fase remaja, usia 12-18. disebut juga sebagai hubungan kekerabatan), seseorang harus merasakan identitas dirinya terhadap pekerjaan, peran menurut gender, politik, dan agama (hal-hal ini berhubungan dengan peranannya di masyarakat sebagai anggota masyarakat dan pemerhati lingkungan sekitar). pada fase hubungan percintaan (love relationship, pada umur 19-40 tahun) seseorang akan belajar intimasi dan isolasi (intimasi disebabkan kecenderungan untuk cinta terhadap lawan jenis, isolasi didapatkan dari pemutusan hubungan oleh lawan jenis). pada masa middle adulthood (usia 40-60 tahun, disebut juga masa parenting), seseorang akan merasakan bagaimana rasanya merawat dan menurunkan tongkat perjuangan ke generasi selanjutnya (anak dan cucunya). pada masa terakhir kehidupan (masa penerimaan diri dan refleksi), seseorang akan merasakan bagaimana rasanya penerimaan terhadap hal yang sudah diterimanya di kehidupan dan akan lebih fleksibel terhadap kehidupan sendiri dan orang lain (pada masa ini, seseorang diharapkan menjadi pribadi yang bijak dalam memandang banyak masalah).

GANGGUAN KEPRIBADIAN KHAS

meliputi beberapa bidang kepribadian, tidak berkaitan langsung dengan kerusakan/penyakit otak atau gangguan jiwa lain (lebih kepada kesalahan penyesuaian menurut teori freud), berlangsung lama (kelainan yang dibawa sejak kecil dapat berlangsung lebih lama daripada yang didapatkan saat sudah dewasa), pervasif dan rigid (bersifat maladaptif. seseorang dapat mengalami kesulitan secara pribadi dan sosial), dan muncul pada masa kanak/remaja (fase oral, anal, dan falik. kesalahan adaptasi pada fase-fase dapat berakibat kepada gejala-gejala ketidakpercayaan, kemaluan, keraguan, kekerasan, dominasi, inferioritas, rasa kegagalan, dan ketidakpercayadirian), berlangsung hingga dewasa. gejala baru dapat diartikan sebagai gangguan kepribadian jika sampai berpengaruh terhadap keadaan sosial seseorang. gangguan ini terdiri dari:

GANGGUAN KEPRIBADIAN PARANOID

menurut tabel erikson, fase ini dapat terjadi karena kesalahan adaptasi pada campuran fase, dapat berupa fase latensi (umur 6-12 tahun, pada fase ini seseorang akan mempelajari bagaimana untuk dapat bertahan dari kegagalan dan rasa inferioritas), fase relationship, fase love, fase toilet training, dan fase lokomotor. tetapi, rasanya fase oral-anal adalah yang memberikan paling banyak gejala tersebut. hal ini disebabkan oleh inti dari gangguan ini yang berarti ketidakpercayaan terhadap lingkungan sekitar. kriterianya memenuhi minimal tiga di antara: 1. kepekaan berlebihan terhadap kegagalan dan penolakan, kecenderungan menyalahartikan sikap orang lain sebagai penghinaan/penolakan, kecenderungan menyimpan dendam, perasaan bermusuhan, permintaan pemenuhan hak pribadi tanpa mementingkan lingkungan, kecurigaan berulang dan tanpa dasar tentang kesetian pasangan, cenderung merasa diri penting, dan preokupasi tentang penjelasan-penjelasan yang tidak substansif.

GANGGUAN KEPRIBADIAN SKIZOID

gangguan utama dihasilkan dari fase toilet training. seorang anak yang tidak berhasil melaluinya dengan baik akan menjadi pemalu dan peragu. gejala gangguan ini memenuhi minimal tiga dari tanda-tanda berikut: sedikit aktivitas yang memberikan kesenangan (fase lokomotor), dingin, datar, ketidakpedulian (fase lokomotor), tidak dapat memberikan ekspresi (fase lokomotor dan relationship), tak peduli pujian/kecaman (fase relationship), tak peduli pujian/kecaman, kurang tertarik dengan pengalaman seksual dengan orang lain, melakukan aktivitas sendirian, preokupasi terhadap fantas yang berlebihan, tidak ada teman dekat, dan sangat tidak sensitif terhadap norma yang berlaku.

GANGGUAN KEPRIBADIAN DISOSIAL

gangguan utama muncul dari fase lokomotor. seseorang yang tidak berhasil melalui fase lokomotor dengan baik akan mengalami gejala pemarah dan mudah tersingggung. gejala gangguan kepribadian disosial memenuhi minimal tiga dari gejala ini: tidak peduli perasaan orang lain, tidak bertanggung jawab, tak peduli norma dan kewajiban sosial, tak mampu memelihara hubungan jangka lama, toleransi terhadap frustasi sangat rendah, cenderung melampiaskan agresi, termasuk tindakan kekerasan, tak mampu mengalami rasa salah dan menarik manfaat dari pengalaman, khususnya hukuman, dan sangat cenderung menyalahkan orang lain

GANGGUAN KEPRIBADIAN EMOSIONAL TAK STABIL

dihasilkan dari fase lokomotor. cenderung bertindak secara impulsif tanpa mempertimbangkan konsekuensinya, dam memiliki ketidakstabilan emosional

GANGGUAN KEPRIBADIAN HISTRIONIK

dihasilkan dari fase lokomotor atau relationship. terdapat minimal tiga dari gejala ini: dramatisasi, teatrikal, dan bersemangat, mudah dipengaruhi, keadaan afektif dangkal (tidak merasakan cinta, kehangata, yang dilihat selalu dirinya sendiri), selalu ingin jadi pusat perhatian, seduktif (senang merayu), dan terlalu peduli dengan daya tarik fisik.

GANGGUAN KEPRIBADIAN ANANKASTIK

gangguan ini ditandai dengan minimal tiga dari tanda-tanda ini: perasaan ragu-ragu dan hati-hati berlebihan, preokupasi tentang detail, peraturan, daftar, urutan, jadwal, perfeksionisme yang memengaruhi penyelesaian tugas (terkadang tugas tidak terselesaian disebabkan perfeksionisme tersebut), keterpakuan dan keterikatan, kaku, keras kepala, dan pemaksaan agar orang lain mengikuti persis caranya melakukan sesuatu (perhatikan bahwa yang ditekankan di sini adalah keadaan yang membuat seseorang menjadi sangat terganggu sehingga dapat berefek kepada kehidupan sosialnya).

GANGGUAN KEPRIBADIAN CEMAS (MENGHINDAR)

dihasilkan dari kegagalan melewati fase latensi (usia 6-12 tahun). hal ini membuat seseorang mengalami gangguan yang ditandai dengan minimal dari gejala ini: perasaan tegang dan takut yang menetap dan pervasif, merasa diri tidka mampu, tak menarik, lebih rendah dari orang lain, preokupasi terhadap kritik dan penolakan dalam situasi sosial, keengganan untuk terlibat dengan orang lain kecuali merasa yakin akan disukai, pembatasan dalam gaya hidup karena alasan keamanan fisik, dan perasaan takut dikritik/tak didukung/ditolak sehingga terjadi penghindaran terhadap pekerjaan/aktivitas sosial yang banyak melibatkan kontak interpersonal.

GANGGUAN KEPRIBADIAN DEPENDEN

dihasilkan dari kegagalan melalui fase pertama (fase anal-oral) yang menyebabkan seseorang merasa sangat tergantung dengan orang lain (pada fase anal-oral bayi dalam kasus ini cenderung dituruti kemauannya oleh orang sekitarnya). hal ini akan menimbulkan gejala minimal tiga dari gejala-gejala ini: mendorong/membiarkan orang lain mengambil sebagian besar keputusan penting untuk dirinya, meletakkan kebutuhan sendiri lebih rendah daripada orang lain tempatnya bergantung, dan kepatuhan yang tak semestinya kepada mereka, rasa tak enak/tak berdaya bila sendirian, preokupasi akan ketakutan ditinggalkan dan dibiarkan mengurus dirinya sendiri, dan kemampuan terbatas untuk membuat keputusan sehari-hari tanpa nasehat/dukungan orang lain.

kesemua gangguan di atas dapat dibagi menjadi kelompok-kelompok: kelompok A (yang menunjukkan keanehan, dan eksentrisitas. belum jelas pada kelompok ini mengapa gangguan dapat muncul) yang terdiri dari gangguan paranoid, skizoid, dan skizotipal, kelompok B (yang terdiri dari gangguan dramatisasi dan emosional. gangguan dialami merupakan produk dari ketidaknormalan fase lokomotor hidupnya) yang terdiri dari gangguan antisosial, borderline, histrionik, dan narsisistik, dan kelompok C (yang ditandai dengan kecemasan dan ketakutan dan dihasilkan dari kegagalan pada tahap pertama, kedua, dan latensi) yang terdiri dari gangguan penghindaran, dependensi, dan obsesif-kompulsif

penatalaksanaan untuk kasus-kasus di atas dapat tergolong ke dalam psikoterapi, terapi obat, dan manipulasi lingkungan

Jumat, 10 November 2017

Gangguan Pengendalian Impuls

GANGGUAN PENGENDALIAN IMPULS

INTERMITTENT EXPOLOSIVE DISORDER
merupakan ketidakmampuan menahan impuls untuk melakukan kekerasan (cenderung melakukan kekerasan) yang disebabkan oleh kenaikan testosteron, penggunaan napza di masa kanak-kanak, trauma kepala dan gangguan otak lain, tumbuh dalam keluarga yang tidak stabil (yang disertai oleh kesalahan adaptasi), ketiadaan role model pada masa awal kehidupan, low self-esteem (kepercayadirian), insecurity (perasaan tidak aman).

gejala berlangsung 10-20 menit, episode berulang yang tidak dapat diprediksi, tidak ada tanda agresi antarepisode, menyebabkan kerusakan propery ataj injury pada orang lain, irritable, increased anger, rage (temperamen), tingling (perasaan tersengat atau terpancing emosinya), ches tightness, dan increase headache. terapi untuk penyakit ini adalah terapi kelompok (terapi berkelompok yang di dalamnya pasien-pasien saling mendiskusikan masalahnya), cognitive behaviour therapy (yang di dalamnya pasien mengungkapkan pemikiran negatifnya terhadap dirinya sendiri (dalam kasus ini sifat pemarahnya)), dan farmakoterapi (untuk mencegah gejala timbul kembali. di antaranya adalah antidepresan, antikonvulsan (untuk mencegah gejala kemarahan pasien), antiansietas,dan mood stabilizers)

KLEPTOMANIA
merupakan ketidakmampuan seseorang untuk menahan impuls untuk mencuri sesuatu, walaupun barang itu tidak menguntungkan (berbeda dengan pencuri, biasanya pengidap kleptomania akan menyesal setelah melakukan tindakannya. pencurian merupakan tindakan kriminal). penyebab dari gangguan ini adalah keturunan, depresi, OCD (obsesive compulsive disorder, keadaan seseorang memiliki pikiran yang berulang-ulang), biasanya terdapat pada perempuan, dan dapat dipicu oleh stres berlebihan.

pada kleptomania, dapat ditemukan gejala dorongan untuk mencuri, didahului dengan ketegangan, merasakan kesenangan ketika mencuri, dan diikuti oleh rasa malu dan rasa bersalah (dijelaskan sebelumnya), cemas, tak nyaman, spontanitas, dan dapat dipicu oleh stresor. terapi yang biasanya didapatkan pasien adalah terapi kelompok (dijelaskan sebelumnya), cognitive behavioral theray (dijelaskan sebelumya), terapi aversif (merupakan bentuk terapi behavioral yang di dalamnya pasien dipaparkan oleh sesuatu yang tidak disukainya untuk menghilangkan rasa ketidaksenangan), dan farmakoterapi (antidepresan, antikonvulsan, antiansietas, dan mood stabilizers)

PATHOLOGICAL GAMBLING
merupakan keinginan berjudi yang tidak tertahankan sehingga dapat merusak kehidupan sosial pasien. penyebabnya dapat berupa kondisi yang sangat kompetitif (yang dialami pasien), masalah dengan serotonin, dopamin, dan norepinefrin, meyakini bahwa mereka dapat mengendalikan situasi, komponen genetik, dan jenis kelamin laki-laki.

gejala akan memburuk pada saat stres, disebabkan oleh kemungkinan mendapatkan uang dengan berjudi, kesenangan, gangguan sosial dengan keluarga/pekerjaan, dan meminjam/mencuri/menipu/berbohong.

terapi untuk gangguan ini adalah terapi kelompok, cognitive behavour therapy, terapi aversif, dan farmakoterapi (antidepresan, antikonvulsan, antiansietas, dan mood stabilizers. perhatikan bahwa farmakoterapi sama pada banyak kasus. hal ini disebabkan oleh dasar pemilihan terapi tersebut yang berawal dari gejala yang dialami pasien. hal ini disebabkan juga oleh gejala pasien yang disebabkan oleh gejala positif).

PYROMANIA
merupakan impuls yang tak tertahankan untuk menyalakan api tanpa tujuan. penyebabnya dapat berupa perasaan tertekan, keinginan mencari perhatian pada saat bersamaan, perasaan jarang diacuhkan, dapat dipicu oleh stres, buruknya skil sosia., dan relasi yang buruk. gejala yang terjadi dapat dilihat dengan seringnya menyalakan api tanpa tujuan, suka melihat api, ketegangan atau excitmen, dan rasa tenang saat menyalakan api.

pengobatan yang sering didapatkan pasien berupa obat (SSRI, serotonin selective receptor inhibitor, merupakan antidepresan yang bekerja laten dan paling sering digunakan) dan modifikasi perilaku (persepsi obat tidak melibatkan antigejala positif karena tidak terdapat gejala tersebut pada gangguan ini).

TRICHOTILLOMANIA
dapat dilihat dari bagian tubuh yang botak (normalnya berambut, seperti kepala, alis, bulu mata, dll), kebiasaan mengunya/memakan/bermain dengan rambut yang dicabut, menggosok-gosokkan rambut yang dicabuti ke bibir atau wajahnya, pemakaian alat pencabut rambut (terkadang), dan bisa sengaja atau tak sengaja.

terapi yang biasa digunakan berupa farmakoterapi (antidepresan, jika terjadi depresi), psikoterapi (CBT dan acceptance and commitment therapy (ACT), terapi yang menggabungkan konsep acceptance (penerimaan diri pasien terhadap kejadian yang terjadi) dan mindfulness (perhatian yang terpusat kepada hal yang sedang terjadi))

RAPUNZEL SYNDROME

kelainan memanjangkan rambut..

Glaucoma

GLAUCOMA


GLAUCOMA DEFINITION
merupakan cedera pada kepala saraf penglihatan (kepala saraf (optic head) biasa disebut sebagai optic disc dari N. opticus) yang ditandai dengan berlubangnya optic disc dan kehilangan lapang pandang. biasanya penyebabnya merupakan kenaikan tekanan intraokuler (intraocular pressure, IOP).

INTRAOCULAR PRESSURE (IOP)
normalnya, tekanan intraokuler adalah 11-21 mmHg. faktor yang dapat mempertahankan atau mengubah IOP adalah kecepatan produksi aqueous humour oleh badan silier dan resistensi drainase aqueous humour (terdapat dua jalan drainase aquoeus humour, yaitu trabecular outflow (melalui trabekula pada limbus (daerah perbatasan antara kornea dengan badan sklera pada tunika fibrosa)) dan uveoscleral network melalui anterior chamber).

ANGLE VISUALIZATION
goniscopy biasa digunakan untuk melihat struktur bagian anterior mata

IOP MEASUREMENT
dapat menggunakan tangan (yang membandingkan mata kanan dan kiri dengan menggunakan jari) dan dengan alat digital (dapat menggunakan schiotz indentation tonometer dan applanation tonometer, lebih akurat dibandingkan schiotz, keduanya dalam skala mmHg).

PRESSURE DAMAGE ON THE EYE
peningkatan iop dapat ditandai dengan tertekannya optic disc yang akan mengubah bentuknya.

VISUAL TRANSMISSION AFFECTED IN GLAUCOMA
(ingat kembali pelajaran tentang jaras informasi penglihatan. jaras dimulai oleh penerimaan cahaya dan akomodasi oleh lensa mata dan kornea, dilanjutkan dengan penggantian sinyal elektromagnetik menuju sinyal listrik oleh fotoreseptor. jalan sinyal berlanjut bagian retinal (bagian pada membran sel yang berfungsi untuk menghiperpolarisasi saraf mata melalui cAMP yang menyebabkan tertutupnya kanal Na pada sel fotoreseptor), berlanjut ke optic disc, optic nerve dan otak)

EXCAVATED OPTIC NERVE HEAD (PAPIL N. OPTICUS)/ OPTIC DISC
ditandai dengan pembesaran rasio cup/disk (c/d, merupakan rasio antara bagian yang terang pada optic dics dengan yang lebih redup (disc) yang memiliki nilai setengah), nasalisasi (merupakan masuknya darah dari retina ke hidung), terlihatnya lamina cribrosa (latin cribrosa: cincin, merupakan bagian yang dipenetrasi oleh saraf dan pembuluh darah pada mata), dan vessel bayoneting (bayoneting merupakan bentuk seperti huruf z, merupakan pedang yang terdapat pada senapan jika dilihat dari samping).

VISUAL FIELD
pada glaucoma dapat terbentuk penglihatan seperti berbukit. lapang pandang paling sensitif tetap terdapat pada fovea (daerah di antara macula lutea yang terdapat banyak sel cone), tetapi terdapat pengurangan sensitivitas (sensitivitas merupakan ketajaman yang dihasilkan oleh sel cone) pada periferal (yang dapat menyebabkan kehitaman pada pandangan), dapat diukur dengan tes konfrontasi (yang hanya berupa estimasi. confrontation test dilakukan dengan menggerakkan jari pemeriksa dari arah yang jauh secara melintang dan membujur. keduanya, baik pemeriksa maupun pasien, menutup mata yang terdapat pada bidang yang sama. pasien diminta untuk menghentikan pemeriksa jika telah melihat jari pemeriksa. hal ini dilakukan untuk mengetahui lapang pandang pasien).

KLASIFIKASI GLAUKOMA
GLAUKOMA PRIMER
terdapat tipe open angle (keadaan sudut pada mata tempat drainase trabelcularis berada tidak tertutup tetapi terjadi peningkatan IOP) dan angle closure (penyumbatan yang bersifat akut atau kronis)
SECONDARY GLAUCOMA

terapat beberapa jenis, di antaranya lens induced (merupakan glaukoma yang berhubungan dengan gangguan pada kapsul lensa dan adanya fragmen lensa pada anterior chamber), inflamatory/uveitis induced (merupakan glaucoma yang berhubungan dengan adanya gejala uveitis), trauma (yang dapat berupa hifema (terdapatnya darah pada anterior chamber) dan angle recess (kejadian pada otot silier yang menyebabkan terjadi kemunduran posisi otot)), corticosteroid induced, glaucoma nevaskuler (yang disebabkan oleh pertumbuhan pembuluh darah pada daerah daerah iris (NVI), angle (daerah sudut pada antara iris dan kornea, NVA) kedua kejadian itu biasanya disebabkan oleh iskemi (kurangnya suplai darah ke jaringan atau organ tertentu)), pseudoexfoliation glaucoma (merupakan kejadian sistemik yang membuat substansi berprotein diproduksi pada kadar yang tinggi pada jaringan mata), dan pigmentary glaucoma (penyakit keturunan yang menyebabkan pigmen iris pindah ke aqueous humour dan menyebabkan penyumbatan drainase cairan tersebut, sehingga menyebabkan kenaikan IOP).

Rabu, 08 November 2017

Vitreoretinal Disease

VITREORETINA DISEASE

TEN LAYERS OF THE RETINA

Dari proundus ke superfisial, terdapat internal limiting membrane (yang memisahkan antara sel ganglion dengan pembuluh darah dan terdapat banyak sel endotel), nerve fiber layer (merupakan akson dari sel ganglion dan banyak pembuluh darah), lapisan sel ganglion (banyak dendrit dan badan sel ganglion. Menurut urutannya, dari profundus ke superfisial sel terdapat sel ganglion, sel bipolar, dan sel fotoreseptor), lapisan pleksiform dalam (merupakan axon sel ganglion dan bipolar, terdapat juga akson sel horizontal dan sel amakrin (ketiga sel yang disebutkan, bipolar, amakrin, dan horizontal merupakan sel yang terdapat pada satu lapisan horizontal)), lapisan nuklei dalam (merupakan badan dan dendrit sel yang tiga), lapisan pleksiform luar (merupakan akson sel bipolar dan sel fotoreseptor. Perhatikan bahwa penamaan dalam dan luar (inner dan outer) ditetapkan sebelum dan sesudah badan dan dendrit sel bipolar), lapisan nuklei luar (yang terdiri dari sel fotoreseptor yang menangkap cahaya), external limiting membrane (merupakan membran yang terdapat paling luar/superfisial dan membatasi antara sel fotoreseptor dan retinal pigment epithelium (RPE) yang memberikan warna).

RETINAL PIGMENT EPITHELIUM

Merupakan lapisan yang terletak antara membran Bruch (merupakan bagian paling profundus dari badan koroid) dan retina. Peranan bagian ini adalah untuk absorsi cahaya, mempertahankan ruang subretina yang terletak antara RPE dan sel fotoreseptor, memfagositosis segmen luar dari sel rod dan cone, membentuk pembatas terluar antara darah dan mata, dan untuk memetabolisme vitamin A/retinol

MAKULA

Memiliki sinonim posterior pole (sebenarnya makula terletak lebih superior dari posterior pole), macula lutea (nama sebenarnya), inti retina (selain letaknya yang hampir di tengah, bagian ini juga menjadi titik fokus penglihatan seseorang), dan area sentralis (makula merupakan bidang, sehingga pantas disebut area)

DEFINISI HISTOLOGIS MAKULA

Merupakan bagian yang terdiri dari lapisan ganglion dengan dua lapis sel atau lebih, dan terdiri dari pigmen xantophil. Sedangkan secara klinis, makula dapat diartikan sebagai area di polus posterior (posterior pole, dibahas sebelumnya), memiliki diameter 5.5 mm, terletak 4 mm ke arah temporal, dan 0.8 mm lebih inferior dari optic disc.

EVALUASI KLINIS PENYAKIT MAKULA

Dapat dilihat dari gejala sebagai berikut: gangguan visus (terdapat skotoma (kegelapan pada penglihatan)), metamorfosia (distorsi garis lurus), mikropsia (penglihatan mengecil), dan makropsia (penglihatan membesar, dua terakhir lebih jarang terjadi).

MAKULOPATI

Merupakan cedera pada makula, yang biasa terjadi akibat retinopati diabetes. Terdapat skotoma, metamorfosia (yang ditandai dengan garis gelombang pada amsler grid), tes fotostres memanjang, reaksi pupil normal (penyakit ini tidak ada pengaruh terhadap lebar pupil yang berhubungan dengan iris), jarang terjadi gangguan warna (warna dideteksi oleh sel cone pada retina, mungkin gangguan ini jarang terjadi akibat utuhnya sel cone pada makula).

AGE RELATED MACULAR DEGENERATION (AMD)

Banyak menjadi penyebab kebutaaan, terjadi pada usia 50 tahun ke atas, merupakan penyakit degeneratif yang berpengaruh pada RPE (retinal pigment epithel), Bruch’s membrane (membran terdalam dari badan koroid), dan koriokapiler (merupakan lapisan koroid yang memiliki kapiler), dan dibagi menjadi dua tipe: nonneovaskuler (tipe kering), dan neovaskuler (tipe basah).

AMD TIPE NONNEOVASKULER

Merupakan jenis AMD yang lebih sering terjadi, dicirikan oleh penurunan visus ringan, memiliki ciri Drusen (merupakan materi granuler yang terdapat antara membran Bruch dengan retina), memilki RPE yang abnormal (atropi tipe geografik/nongeografik (bercak seperti bentuk pulau pada peta), terdapat hiperpigmentasi fokal (hiperpigmentasi merupakan warna berlebihan yang fokal)), dan dapat diterapi dengan edukasi, follow up, dan pemberian mikronutrien (diketahui bahwa membran bruch (yang dapat terkena dampak degenerasi) merupakan tempat utama pemrosesan vitamin A)

AMD TIPE NEOVASKULER (BASAH)

Pada tipe ini, terdapat penurunan visus yang berat dengan tanda drusen yang halus (drusen dapat berupa bercak tipe geografik atau hiperpigmentasi), pelepasan RPE (diketahui bahwa AMD dapat memengaruhi bagian koriokapiler yang terdapat banyak pembuluh darah, hal ini berimplikasi kepada terbukanya lapisan RPE milik retina), elevasi subretina karena penumpukan darah dan cairan (yang mendesak dari arah superfisial), dan neovaskularisasi koroid (merupakan pertumbuhan pembuluh darah dari badan koroid menuju retina). Tes tambahan untuk mendiagnosis ini adalah FFA (fundus fluorescein angiography, dilakukan dengan menginjeksikan cairan sodium (Na+) berfluoresin ke cairan darah untuk mengambil gambaran retina menggunakan filter spesial), indocyanine green angiography (ICGA), dan OCT (dijalankan dengan menggunakan gelombang untuk mendapatkan gambaran dari samping retina).

PENATALAKSANAAN AMD TIPE NEOVASKULER

Menggunakan laser fotokoagulasi (laser yang menggunakan panas, dapat menghanguskan pembuluh darah yang menonjol ke arah profundus), terapi fotodinamis (PDT, digunakan dengan cara memberikan obat dan cahaya dengan panjang gelombang tertentu), triamcinolon (steroid, diinjeksikan ke dalam vitreous), anti VEGF yang diinjeksikan intravitreal (dapat berupa macugen, lucentis, dan avastin), dan dapat pula dengan mengombinasikan PDT dengan injeksi intravitreus.

RETINA ABLASIO

(latin ab: jauh dan lat: dibawa, dibawa menjauh) Merupakan pelepasan retina dari tempatnya. Didefinisikan sebagai lepasnya lapisan saraf sensoris (lapisan sel ganglion/bipolar) dari pigmen epitelium retina (lapisan pigmen epitelium ini merupakan lapisan antara external limiting membrane retina dengan badan koroid). Terdapat dua bentuk ablasio, yaitu rhegmatogen (merupakan RD dengan pelepasan retina yang diakibatkan oleh adanya celah pada retina yang menyebabkan akumulasi air mata) dan nonrhegmatogen (dapat berupa pelepasan traksional yang terjadi akibat akumulasi jaringan ikat).

PENYEBAB RD (retinal detachment)

Penyebab primer dari RD adalah usia, miopia yang tinggi, degenerasi retina, dan trauma, sedangkan penyebab sekundernya dapat berupa tumor koroid, transudat (filtrasi darah yang disebabkan oleh meningkatnya tekanan cairan intravena/intrakapiler atau sedikitnya jumlah protein pada serum darah)  pada hipertensi (kenaikan tekanan darah), retinopati nefritik, dan coat’s disease (penyakit kongenital langka yang tidak diturunkan yang menyebabkan kebutaan total atau parsial yang ditandai oleh pembentukan pembuluh darah di dalam retina), eksudat pada koroiditis, dan traksi jaringan yang terorganisasi.

GEJALA DAN TANDA RD

Gejala (dapat berupa tanda subjektif dan objektif. Tanda subjektif merupakan tanda yang dirasakan oleh pasien dan didapat oleh dokter melalui anamnesis, sedangkan tanda objektif merupakan tanda yang dapat dikuantifikasi melalui angka dan pemeriksaan, baik fisik maupun lab) subjektif dari RD merupakan metamorfopsia (distorsi penglihatan, dapat berupa makropsia (objek membesar) atau mikropsia (objek mengecil)), fotopsia (melihat kilatan cahaya), melihat ada sesuatu yang bergerak di mata ,tirai yang bergerak ke satu arah, visus sentral nol (bila terjadi di makula (makula merupakan inti penglihatan yang terdapat di tengah mata)/ penghitaman pada inti penglihatan, dapat diketahui ketika pasien mengatakan bahwa inti penglihatannya menghilang), ablasio retia (pelepasan retina dari tempatnya. Dapat mengakibatkan hilangnya persepsi cahaya). Sedangkan gejala objektifnya merupakan retina yang bergelombang, berwarna abu-abu seperti awan, dan pembuluh darah lebih gelap, berkelok-kelok, dan refleks cahaya negatif.

PENGOBATAN

Pasien apabila telah terdiagnosis RD harus segera dirawat dan tindakan harus secepatnya dilakukan. Bila terlalu lama, akan terjadi gangguan pada lapisan sel batang dan kerucut yang menyebabkan penyakit menjadi degeneratif dan menyebabkan pengobatan/tindakan tidak berhasil. Terapi yang dianjurkan berupa scleral buckle (merupakan prosedur operasional yang mendekatkan retina kepada badan koroid, dapat berupa penambahan tekanan dari dalam (melalui penambahan cairan vitreous) maupun dari luar dengan cara mengikat bola mata untuk tujuan tersebut), drainase, gas sF6 dan C3F8, kriopeksi (prosedur menggunakan dingin untuk menginduksi jaringan parut pada daerah korioretina untuk menghancurkan jaringan retina atau badan koroid), fotokoagulasi laser (memotong pembuluh darah dengan laser), vitrektomi pars plana (PPV, prosedur operasional yang dilakukan dengan mengangkat jel vitreous dari mata melalui pars plana. Latin pars plana: bagian yang pipih, merupakan bagian di antara badan koroid dan plica sirkularis). Prinsip dari pengobatan RD adalah mencari tempat robekan, menutupnya, dan mengeluarkan cairan subretina dengan pungsi (untuk menghindari pelepasannya kembali).

RETINOPATI DIABETIK

Retinopati jenis ini merupakan komplikasi dari diabetes mikrovaskuler, disebabkan oleh hiperglikemi yang sudah kronis (beberapa teori patofisiologi diabetik retinopati yang berdasarkan perubahan biokimiawi menjelaskan penyakit ini), melalui perubahan vaskuler karena proses biokimia dan hematologi, dan menjadi penyebab kebutaan yang lebih banyak terjadi pada usia produktif (data diambil dari USA). Diabetik retinopati berbanding lurus dengan lamanya DM (dan onset awal terjadinya) dan menjadi 4,8% penyebab kebutaan di dunia. Hampir semua pasien DM tipe 1 dan 77% pasien DM tipe 2 mengalami DR setelah terkena DM selama 20 tahun (data ini menguatkan pernyataan sebelumnya tentang lamanya penyakit yang berbanding lurus terhadap kejadian DR).

FAKTOR RESIKO DR

Lamanya menderita diabetes mellitus, seperti yang dijelaskan sebelumnya dapat menjadi faktor resiko terjadinya DR, begitu juga dengan kontrol gula yang buruk (berhubungan dengan kepatuhan pasien), kontrol tekanan darah (hipertensi), kontrol lipid serum (yang banyak berhubungan dengan patofisiologi biomolekular), dan faktor lainnya (seperti merokok, kehamilan, nefropati, dan faktor genetik).

PATOGENESIS DR

Banyak teori menjelaskannya, dan semuanya berhubungan dengan perubahan biokimiawi dalam darah, seperti oklus mikrovaskuler (oklusi merupakan sumbatan atau penutupan dari pembuluh darah atau organ berongga (seperti usus, lambung, dan faring)) dan kebocoran mikrovaskuler.

OKLUSI MIKROVASKULER

Penyebab oklusi mikrovaskuler adalah penebalan membran basemen (milik RPE yang menjadi penengah antara sel fotoreseptor pada retina dan badan  koroid), kerusakan dan proliferasi endotel (endotelium merupakan epitelium yang membatasi pembuluh darah atau pembuluh limfatikus), perubahan eritrosit yang berperan dalam pengangkutan O2, dan peningkatan agregasi platelet (agregasi platelet dapat menyebabkan oklusi intravaskularis atau penyumbatannya). Akibat dari oklusi tersebut adalah iskemia (yunani iskhein: penahanan dan haima: darah, merupakan ketidakcukupan suplai darah ke dalam sel) yang dapat berakibat hipoksia retina, berlanjut kepada neovaskularisasi dan arteriovenous shunt (merupakan pembuatan jalan pintas antara arteri dan vena).

KEBOCORAN MIKROVASKULER

Penyebab dari kebocoran ini adalah berkurangnya rasio normal antara perisit dan endotel (perisit adalah sel berdenyut yang membatasi sel endotel yang mengelilingi kapiler di seluruh tubuh. Rasio antara keduanya seharusnya satu, tetapi pada kondisi ini berukurang). Perisit memiliki fungsi menyelimuti kapeler dan bertanggung jawab terhadap utuhnya struktur dinding pembuluh darah. Ketika perisit hilang, dapat terjadi sobekan pada barier darah-retina yang menyebabkan kebocoran plasma ke retina. Akibat dari kebocoran mikrovaskuler ini adalah mikroaneurisma (merupakan edema retina pada satu tempat dan difusi cairan yang membentuk celah di retina atau antara retina dengan badan koroid).

DIAGNOSIS DAN PEMERIKSAAN

Gejala dari DR biasanya asimtomatik dan dapat ditandai dengan penurunan visus (hal ini dapat mengecoh pemeriksa yang mendiagnosisnya dengan katarak atau gejala akomodasi) yang jika terjadi pada fovea dapat diakibatkan oleh edema, iskemi, dan eksudat keras, kehilangan penglihatan yang ringan sampai berat, bertahap, dan tidak disertai nyeri.

PEMERIKSAAN

Dapat dilakukan pemeriksaan dilatasi mata (dilakukan pada keadaan mata berdilatasi, yang biasanya terjadi pada saat pencahayaan kurang jelas. Hal ini menjadikan pemeriksaan yang dilakukan oleh doker mata dengan melihat ke dalam retina menjadi jelas).

KLASIFIKASI RETINOPATI DIABETES

Terdiri dari non-proliferative diabetic rethinopathy (NPDR) (yang ditandai dengan mikroaneurisma, perdarahan, eksudat keras, dan edema retina), diabetic maculopathy/diabetic macular edema (yang dapat terjadi pada NPDR dan PDR dan dibagi menjadi lima: focal, diffuse, ischemic, mixed, dan CSME (CSME dapat ditandai dengan penebalan sampai 500 mikrometer pada makula atau eksudat keras setebal 500 mikrometer pada jika terjadi bersamaan dengan penebalan daerah retina di dekatnya)), dan preproliferative diabetic rethinopathy (yang memiliki tanda cotton wool spot, IRMA, dilatasi pembuluh darah, beading, looping, segmentasi, dan perdarahan. Penyebab turunnya visus dapat berupa edama makula (yang akan membuat sel cone dan rod kehilangan fungsinya), iskemi makula (logis jika dikaitkan dengan kerja retinal dan opsin yang sebagian besar membutuhkan tenaga)), proliferative diabetic retinopathy (PDR) yang ditandai dengan vaskularisasi (baik pada optic dis (NVD), maupun dimanapun (NVE, new vessel everywhere), kelainan vitreous humour, dan perdarahan vitreous humour (yang datang dari pembuulh darah juga)), dan penyakit mata diabetik lanjutan (yang ditandai dengan terbentuknya jaringan fibrovaskuler, perdarahan badan kaca yang persisten, glaukoma neovaskuler, dan ablasio retina traksional)

TERAPI RD

Dengan laser photocoagulation (pemotongan pembuluh darah), injeksi antiVEGF intravitreous (VEGF, vascular endothelial growth factor (jika terjadi proliferasi endotel untuk menyeimbangkan jumlah endotel dan perisit), vitrektomi pars plana (untuk menggantikan vitreous yang buram karena terkena darah)

PENCEGAHAN DR

Pencegahan primer dilakukan dengan meregulasi gula darah, tekanan darah, obesitas, dan lainnya. Pencegahan sekunder dilakukan dengan deteksi dini dan skrining.

DETEKSI DINI

Pada dasarnya, deteksi dini mudah dilakukan dengan cara yagn kreatif. Hal ini akan membuat pasien tertarik untuk melakukan deteksi pada dirinya. Agar mudah terdeteksi, pada awal diagnosis diabetes, retina pasien perlu diperiksa. Standar skrining untuk DR ini adalah dengan pemeriksaan klinis dan foto fundus (fundus merupakan bagian yang terletak berseberangan dengan pupil).
Deteksi dini ini dilakukan paling lambat untuk diabetes tipe I 3-5 tahun setelah didiagnosis diabetes dengan follo up setiap tahun, pada tipe II dilakukan harus pada saat didiagnosis dengan follow up setiap taun, pada diabetes sebelum kehamilan harus dilakukan sebelum konsepsi dan awal trimester pertama kehamilan. Bila terdapat kelainan, maka follow up dapat dilakukan lebih sering.
Follow up untuk mikroaneurisma dilakukan tiap tahun, untuk NPDR ringan dilakukan setiap 9 bulan, utuk NPDR sedang 6 bulan, NPDR parah 2-4 bulan, CSME setiap 2-4 bulan dengan terapi laser, untuk PDR setiap 2-3 bulan dengan terapi laser.

KAPAN DIRUJUK KE MATA?

Ketika visus mata pasien sudah turun ketika pertama kali memeriksa dan jika sudah terjadi DR yang membutuhkan penanganan. Segera rujuk pasien jika terjadi PDR, perdarahan preretinal, perdarahan vitreous, rubeosis iridis (neovaskularisasi), dan ablasio retina

HYPERTENSIVE RETINOPATHY

Beberapa ketidaknormalan vaskuler pada neuropati hipertensif: angiospasme (kontraksi pada pembuluh darah dengan kenaikan tekanan darah), angiopati (angiopati biasa digunakan untuk penyakit vaskuler, seperti pada arteri, vena, dan kapiler), retinopati, dan oklusi pembuluh retina.

ANGIOPATI

Merupakan perubahan organik (memengaruhi struktur sebuah organ) dinding pembuluh darah. Jika persilangan arteri dengan vena dilihat dengan oftalmoskopi, angiopati dapat berbentuk kompresi ringan (jika pembuluh yang satu menindih yang lain sehingga mengganggu aliran darah), deviasi V atau S (tanda salus, jika vena tumbuh atau memendek ke tempat bersilangnya vena dan arteri), dan tapering (tanda Gunn, penyempitan pembuluh darah yang diakibatkan oleh tindihan, aliran darah sudah terputus tetapi tidak terdapat pembengkakan), dan banking (pembengkakan pembuluh darah ke arah distal dari pertemuan antara dua pembuluh). Sklerosis (yunani skleroun: mengeras) senil (yang merupakan penyakit degeneratif) dapat ditandai dengan adanya kompresi ringan. Pada hipertensi, sudah terdapat deviasi S atau V (tanda salus), tapering/tanda gunn, dan banking. Dari ketiganya, yang memiliki arti penting merupakan tapering dan banking (karena keduanya merupakan kelainan tingkat lanjut).

KLASIFIKASI KEITH-WAGENER-BARKER HIPERTENSI RETINOPATI

Pada kelas pertama, didapatkan perubahan minimal arteriola berupa sklerosis dan penyempitan ringan. pada kelas kedua, didapatkan arteriola pada retina yang bertambah sempit, kontriksi setempat dan sklerosis retinopati belum jelas. pada kelas ketiga, didapatkan sklerosis arteriola dan konstriksi setempat, gejala retinopati sudah positif, eksudat lunak, dan perdarahan retina didapatkan. pada kelas terakhir didapatkan gejala pada kelas ketiga ditambah dengan edema neuroretina, edema papila, penyempitan arteriola menyeluruh dengan konstriksi setempat yang luas dan sklerosis arteriolar jelas.

HIPERTENSI KOROIDOPATI

didapatkan pada jumlah yang sedikit, merupakan krisis hipertensi akut pada orang muda, dan didapatkan gambaran funduskopi elscihing spot (infark koroid fokal (infark merupakan kematian jaringan akibat iskemia)), siegrist streaks (nekrosis fibrinoid yang berhubungan dengan hipertensi maligna), ablasio retina eksudatif (yang biasanya berhubungan dengan toksemia gravidarum, keracunan akibat kehamilan yang biasanya ditandai dengan tanda-tanda hipertensi, edema, dan proteinuria).

OKLUSI PEMBULUH DARAH RETINA

terdapat beberapa jenis sesuai lokasinya: central retinal arterial occlusion (CRAO), branch retinal arterial occlusion (BRAO), central retinal vein occlusion (CRVO), dan branc retinal vein occlusion (BRVO). oklusi merupakan penutupan pembuluh darah atau organ berongga lainnya.
CRAO

penyebab terbanyak dari CRAO (central artery yang dimaksud merupakan pembuluh darah silier yang mengampu ⅔ bagian profundus mata (sel ganglion dan bipolar)) merupakan arterosklerosis (yunani athere: bubur dan skleroskeras, penumpukan plak pada pembuluh darah). Gejala yang didapatkan dapat berupa penurunan visus mendadak, dengan gambaran fundus vasokonstriksi dan segmentasi pada pembuluh darah (cattle trucking, cattle truck merupakan truk pengangkut hewan ternak), retina pucat, dan gambaran cherry red spot (terletak pada makula). CRAO memiliki prognosis buruk (prognosis CRAO cenderung lebih buruk dari BRAO dari sisi penyebab. CRAO juga lebih buruk dari sisi arteri yang terkena). Penatalaksanaan CRAO bersifat gawat darurat

BRAO

penyebab terbanyak dari BRAO adalah emboli. gejala yang terlihat adalah penyempitan lapang pandang sektoral atau altitudinal mendadak dengan gambaran fundus retina pucat sesuai dengan daerah iskemia, vasokonstriksi dan segmentasi pembuluh darah, dapat ditemukan emboli, penatalaksanaan serupa dengan CRAO, dan prognosis jelek.

CRVO

ada tiga macam CRVO: noniskemik (menjadi yang terbanyak dalam angka (75%)), iskemik (ketidakcukupan asupan darah ke jaringan yang menyebabkan jaringan tidak mendapatkan asupan darah (infark)), dan papillophlebitis (merupakan oklusi retina sentral yang dapat terjadi pada pasien yang sehat atau sakit).

CRVO iskemik ditandai dengan gejala penurunan visus mendadak dan unilateral dengan gambaran fundus pelebaran seluruh cabang vena retina sentral dan berkelok-kelok, perdarahan dot-blot (merupakan akumulasi darah pada lapisan pleksiform luar atau nukleus dalam (lapisan badan sel bipolar dan gabungan akson bipolar dan sel fotoreseptor)) dan flame-shaped, dengan cotton wool spot (merupakan gambaran seperti kapas pada ujung pembuluh darah) dapat terjadi maupun tidak. CRVO diobati dengan laser fotokoagulasi dengan follow up adanya neovaskularisasi segmen anterior dengan prognosis baik untuk jenis noniskemik dan buruk untuk yang iskemik.

BRVO

gejala BRVO tergantung keterlibatan makula. oklusi (penahanan pembuluh darah) biasanya asimtomatik dan akan terjadi penurunan visus mendadak dan metamorfosia jika makula terlibat. gambaran fundus yang didapatkan berupa vena di perifer yang terkena oklusi berkelok-kelok dan dilatasi, perdarahan dot-blot (bentukan bintik-bintik pada retina yang disebabkan akumulasi darah pada lapisan pleksiform luar dan nukleus dalam) dan flame shaped, edema retina, dan cotton wool spots. penatalaksanaan untuk kasus ini adalah observasi 6-12 minggu dengan FFA. jika perfusi makula dan visus membaik, maka tidak diperlukan terapi, jika terdapat edema makula dengan perfusi baik, visus kurang dari atau sama dengan 6/12 selama tiga bulan, maka dilakuakan laser fotokoagulasi, jika makula nonperfusi dan visus jelek, maka tidak digunakan laser karena tidak akan memperbaiki visus. prognosisi BRVO adalah baik.

CHORIORETINITIS

TOXOPLASMIC CHORIORETINITIS

merupakan infeksi segmen posterior terbanyak yang terbagi menjadi korioretinitis kongenital (jika ibu hamil mengonsumsi daging yang terkontaminasi oleh kista/ookist atau melalui feses kucing) dan didapat. gejalanya adalah visus menurun, lesi kekuningan di segmen posterior dan jika aktif dan jaringan parut korioretina jika nonaktif dan bisa terdapat perivaskulitis. terapinya adalah tripel pirimetamin, sulfadiazin, asam folat, dan prednison bila terdapat inflamasi pada makula (prednison merupakan golongan antiinflamasi golongan glukokortikoid).

RETINOPATHY OF PREMATURITY

merupakan kelainan retina pada bayi prematur. dasar patofisiologi dari ketidaknormalan ini adalah vaskularisasi retina normalnya terjadi pada minggu ke-36 gestasi (nasal, bulan kedelapan) dan minggu ke-40 (temporal, bulan kesembilan). prematuritas menyebabkan bayi sudah terpapar ke udara pada bulan ketujuh. hal ini menyebabkan terhambatnya pertumbuhan vaskuler.

pemeriksaan pertama dilakukan pada 4-6 minggu pascamelahirkanl atau minggu 31-33 pascakonsepsi. klasifikasinya berdasarkan zona: zona 1 jika terjadi pada nervus optikus dan beradiasi ke arah makula, zona 2 adalah lingkaran yang berada di sekitar zona 1dan memilki batas pada ora serrata (pembatas antara retina dan badan koroid) ke arah nasal, zona 3 adalah daerah yang mengarah ke temporal dengan kisaran daerah seperti bulan sabit mengelilingi zona 2. dapat juga diklasifikasikan dengan derajat beratnya.


klasifikasi berdasarkan beratnya ada 5: stadium 1 jika terdapat batas antara retina yang terkena dengan yang belum, stadium 2 tergantung tinggi dan lebar batasnya, stadium 3 jika terdapat proliferasi fibrovaskuler, stadium 4 jika terdapat ablasio retina parsial (subtotal), stadium 5 jika terdapat ablasio retina total. penatalaksanaan yang dilakukan bila tidak terdapat regresi spontan (merupakan keadaan penyakit yang secara spontan menunjukkan perbaikan, padahal biasanya memburuk, 85% menunjukkan regresi spontan) adalah laser, krioablasi retina (menggunakan suhu dingin), scleral buckle (melekatkan retina pada lapisan di bawahnya secara mekanis), dan vitrektomi (penggantian cairan vitreous dengan substrat lain yang menyerupai kebeningan vitreous).