(18/9/2017) Penjelasan ini dibuat ketika saya membaca buku
grays anatomy berbahasa indonesia. setiap hal yang saya tambahkan bersifat
elaboratif dari pengetahuan dasar yang telah saya pelajari.
UMUM
Hidung adalah suatu tabung seperti suling memanjang yang permukaan atasnya sempit dan permukaan bawahnya lebar. Lubang berpasangan depannya adalah nares dan lubang berpasangan belakangnya adalah choanae.
Terdapat tiga tulang yang bernama concha (latin: menuju ke bawah) di hidung (superior, medial, dan inferior). Hal ini meningkatkan permukaan kontak antara sel hidung (yang rata2 epitel) dengan udara. Konka ini membagi ruang untuk udara pada hidung : tiga buah meatus (latin: koridor) dan sebuah recessus (Yunani: kembali).
Hidung dapat melubangi dinding sekitarnya (dinding lateral), sehingga keduanya terhubung.
BAGIAN
Jika ilmu pengetahuan merupakan proses membagi-bagi hal yang berbatas, maka hidung dibagi menjadi tiga bagian lagi menurut fungsinya (perhatikan bahwa penulis belum membagi bagian hidung sebelumnya, adapun concha adalah struktur dari hidung, jika disebutkan bagian maka yang sudah disebutkan merupakan bagian hidung menurut jalannya udara). Hidung dibagi menjadi tiga, bagian ruang depan (vestibulum nasi, vestibulum Latin: entrance), bagian penghidu (respiratoria), dan bagian reseptor (olfactoria).
ETHMOIDALE
Tulang-tulang yang membentuk hidung dibagi menjadi dua: yang tidak berpasangan (sphenoidale, frontale, dan vomer) dan berpasangan (nasale, maxilla, palatinum dan lacrimalle, dan concha nasalis inferior). Salah satu yang terpenting adalah ethmoidale
Tulang ethmoidale secara umum berbentuk kuboid. Dalam kasus pembentuk hidung, terdiri dari empat bagian yang menyatu: sepasang labyrinthus ethmoidalis dan sepasang lamina (lamina cribrosa dan lamina perpendicularis, latin lamina: batas tipis, cribrosa: alat untuk memisahkan, perpendicularis: betul-betul vertikal).
Lamina cribrosa menjadi bagian paling atas apex nasii (lihat UMUM, permukaan atas hidung sempit). Lamina tersebut berlubang sebagai tempat lewatnya sel-sel saraf olfaktori. Lamina perpendicularis membentuk septum nasi bagian atas (bagian bawah oleh vomer). Ternyata, concha nasalis superior dan medial terbentuk dari tulang ethmoidale, sedangkan bagian inferior terbentuk dari tulang lain.
(19/9/2017) NASUS EKSTERNUS
Nasus eksternus (latin nasus: hidung) berfungsi memosisikan nares (latin naris: hidung) ke bawah. Disebutkan di atas bahwa nares adalah pintu masuk nasus (bayangkan jika nares menghadap ke atas, pasti seseorang harus memakai payung agar air hujan tidak masuk hidung!). bagian ini dipertahankan terbuka oleh tulang rawan. Dipertahankan juga agar tidak mengempis ketika seseorang bernapas. Bagian tulangnya ada 2: bagian yang bersambung dengan kranium dan bagian kartilago: processus lateralis kartilago septi nasi (latin processus: kemajuan, sepire: menutup), kartilago alaris major (latin alar: sayap), dan kartilagines alares minores (“es” mungkin menunjukkan jumlah banyak).
Setelah ini akan dibahas beberapa macam sinus paranasales (latin sinus: cavity, para: bagian): sinus ethmoidales, sphenoidales, maxillaris, dan frontalis. Penamaan sesuai lokasinya.
SINUS PARANASALES
Sinus ini merupakan perluasan dari cavitas nasi, seperti yang dijelaskan di atas. Saya kurang mengerti mekanisme perluasan cavitas nasi seperti apa. Setiap sinus rnya terdiri dari sel-sel epitel bersilia dan menyekresi mukosa. Sinus membuka ke cavitas nasi (mungkin karena proses perluasan tadi, yang berimplikasi kepada adanya sinus yang tidak memiliki lubang yang membuka ke arah cavitas nasi), dan dipersarafi oleh cabang-cabang nervus trigeminus atau nervus lima.
SINUS FRONTALIS
Sinus frontalis merupakan yang paling superior dari tiga sinus lainnya (sinus ethmoidales, sinus maxilaris, dan sinus sphenoidales). Sinus ini berbentuk segitiga dengan dasar berorientasi vertikal dan apexnya berada di 1/3 panjang margo superior orbita (1/3 medial). Sinus frontalis bermuara pada dinding lateral cavitas nasi, tepatnya pada meatus nasi medius melalui ductus frontonasalis. Di sini saya mengira-ngira dari apa yang ditulis di buku ini bahwa saluran duktus frontonasalis ini vertikal dan menuju ke bawah melalui infundibulum (latin: terowongan bawah tanah) yang terletak di labyrinthus ethmoidalis (baca ETHMOIDALIS).
CELLULAE ETHMOIDALES
Mudahnya, cellulae ethmoidales adalah sinus yang terdapat di dalam labyrinthus ethmoidales (dalam buku ini tertulis cellulae, tetapi sama saja dengan sinus, sehingga masuk ke dalam hitungan kami tentang sinus yang tiga). Jika kita perhatikan dengan seksama, sinus ini merupakan bullae yang terdapat dalam tulang ethmoidales. Dibatasi dari orbita oleh lamina orbitalis milik tulang ethmoidales dan dari rongga hidung oleh dinding medial labyrinthus ethmoidales. Orbita terdapat di lateral dan rongga hidung di medial. Cellulae ethmoidales dibagi superior, medial, atau inferior berdasarkan apertura (latin apert: terbuka). Hal tersebut tentang apertura yang tertulis di grays, masih dipertanyakan mengenai posisi masing-masing cellulae, apakah sejalan dengan apertura ataukah tidak (contoh: cellulae medialis terletak di medial dan memiliki bukaan di medial atau sebaliknya).
SINUS MAXILLARIS
Jika sinus frontalis adalah yang paling tinggi dan sinus/cellulae ethmoidales adalah sinus beberapa ruang, maka sinus maxillaris ini adalah sinus yang paling besar. Sinus ini berbentuk piramida (seperti sinus frontalis) dengan apex menghadap ke lateral. Dasarnya dibentuk oleh maxilla dan concha nasalis inferior yang dibentuk dari tulang palatinum. Bukaan sinus ini terletak di superior (bukan apex) dari sinus ini. Bukaan ini membuat dinding lateral hidung (meatus nasi medius) memiliki koridor. Artinya dinding tersebut memiliki lorong langsung menuju sinus maxillaris.
SINUS SPHENOIDALES
Sinus ini kalau saya tidak salah tidak diajarkan dalam kuliah tht bagian rhinology. Dalam kuliah tersebut hanya terdapat tiga sinus yang telah disebutkan. Sinus ini terletak di bagian recessus (latin: kembali) sphenoethmoidalis yang merupakan apex cavitas nasi dan memunyai recessus (latin: bukaan). Sinus ini berhubungan dengan kelenjar pituitary di atas, cavitas cranii di lateral, dan cavitas nasii di bawah dan depan.
DINDING-DINDING, DASAR, DAN ATAP DINDING MEDIAL
Dinding medial cavitas nasi adalah septum nasi yang tipis dan dilapisi mukosa dan memisahkan cavitas nasi menjadi dua bagian. Septum nasi terdiri dari: cartilago septi nasi di anterior, vomer dan lamina perpendicularis (latin perpendicularis: benar-benar vertikal) os ethmoidalis yang sudah dijelaskan (lihat ETHMOIDALE) di posterior, dan tulang nasale yang bertemu pada garis tengah (belum jelas yang dimaksud dengan bertemu di garis tengah, tapi ditengarai garis sagital) dengan beberapa tulang yang memiliki presentase kecil.
(21/9/2017)
DASAR
Dasar cavitas nasi lebih besar daripada atasnya (lihat UMUM) dan berbentuk cekung. Terdiri dari jaringan lunak nasus eksternus (perhatikan bahwa bagian bawah ini juga terdiri dari jaringan nasus eksternus yang notabene terdapat di lua), permukaan atas processus palatinus maxilla (latin processus: kemajuan. Perhatikan juga meskipun disebut processus, bentuknya tetap cekung), dan lamina horizontalis tulang palatinum (bersama-sama dengan processus palatinus maxila membentuk palatum durum). Nares membuka ke anterior (?) ke dalam cavitas nasi dan apertura superior canalis incisivus (latin apert: terbuka, incidere: memotong).
ATAP
Atap cavitas nasi sempit dan tertinggi (seperti dijelaskan sebelumnya) di bagian sentral. Atap ini dibentuk oleh lamina cribrosa os ethmoidale (lihat ETHMOIDALE). Dari belakang ke depan (posterior ke anterior), atap ini dibentuk oleh dua grup tulang, tulang sejati dan tulang rawan dari nasus eksternus. Grup tulang sejati adalah spina nasalis dari tulang frontale (latin frons: depan) dan tulang nasale, sedangkan grup tulang rawan adalah processus lateralis cartilago septi nasi yang juga merupakan pembentuk dinding medial (yang dimaksud dengan processus lateralis adalah processus ini menonjol ke arah lateral dari septi nasi) dan cartilago alaris major (alar: sayap).
Jika bagian posteriornya ditelusuri sampai ke arah inferior, terdapat beberapa bagian dari tulang: permukaan anterior tulang sphenoidale (Yunani sphen: wedge, wedge sebuah struktur seperti kepala kapak, tebal di satu sisi dan menipis, tulang sphenoid adalah bagian dari cranial), ala vomeris dan processus sphenoidalis tulang palatinum yang berdekatan (latin vomer: alat untuk membajak), processus vaginalis lamina medial processus pterygoidei (latin vagina: sarung yunani pterux: sayap) pada bagian mukosanya, terdapat lubang-lubang dari lamina cribrosa (baca ETHMOIDALE) dan pada bagian anterior celah-celah tersebut terdapat foramen (latin forare: mengebor) sebagai pemisah nervus dan vasa ethomidales anterior.
DINDING LATERAL
Saya ingin sekali membahas hal ini sedari tadi tulisan ini (atau kemarin): mengapa dinding lateral baru dibahas di akhir-akhir bab pada buku sedangkan concha sudah dibahas sejak awal (baca AWAL)? Mungkin jawabannya karena dinding lateral ini bersifat kompleks dan dibentuk oleh tulang, tulang rawan, dan jaringan lunak. Tulang penyangganya ada beberapa kelompok: kelompok pertama adalah labyrinthus ethmoidalis (yang merupakan tulang ethmoidale yang samping {baca ETHMOIDALE}) dan processus uncinatus (latin uncinus: kait, processus ini terdapat di balik concha nasalis medialis. Jika concha menarah ke dalam, maka processus ini mengarah ke luar), lamina perpendicularis tulang palatinum (latin perpendicularis: betul-betul vertikal), lamina medialis processus pterygoidei tulang sphenoidale (pterux: sayap), permukaan medial tulang lacrimale dan maxilla, dan concha nasalis inferior. Di dalam nasus externus (perhatikan bahwa penulis memasukkan nasus externus sebagai juga pemilik dinding lateral), dinding lateral cavitas disokong oleh processus lateralis cartilago septi nasi dan cartilago alaris major dan cartilagines alares minores (es untuk jamak) dan oleh jaring lunak.
Seperti yang telah dijelaskan sebelumnya (baca UMUM), concha membagi cavitas nasi menjadi empat bagian: meatus inferior, medial, superior, dan recessus shpenoethmoidalis (yunani recessus: kembali). Concha tidak sampai ke depan ke nasus externus (nasus externus hanya terdiri dari kartilago dan jaringan lunak). Ujung setiap concha agak bengkok ke inferior membentuk labium (latin: bibir). Untuk menutup meatus yang terkait (menutup menurut fungsinya mungkin untuk membedakan meatus-meatus tersebut satu dengan yang lainnya. Perhatikan juga bahwa penulis di sini menjelaskan bahwa hanya tertutup meatus-meatus, hal ini mengecualikan recessus sphenoethmoidalis yang tidak ditutupi oleh concha). Di bagian lateral di bawah concha medialis, dinding cavitas nasi terangkat dan membentuk bulla ethmoidalis (latin bullae: gelembung), yang berbentuk seperti kubah atau tumor pada bagian tersebut, tetapi normal pada semua orang. bagian ini dibentuk oleh cellulae ethmoidalis (bagian sel hidup pada struktur ini).
Bagian inferior dari bullae ethmoidalis adalah hiatus semilunaris (latin hiare: celah) yang melengkung dan membatasi antara bullae ethmoidalis di atas dan processus incisivus di bawah (latin incidere: memotong). Ujung anteriordari hiatus ini membentuk sebuah saluran (latin infundibulum: terowongan bawah tanah) yang berlanjut menjadi ductus frontonasalis (ductus ini merupakan ductus yang menyambungkan antara sinus frontalis dan hidung dan merupakan pintu masuk sinus tersebut ke hidung seperti yang telah dijelaskan sebelumnya. Dan dapat dilihat juga bahwa infundibulum tersebut terdapat pada labyrinthus ethmoidalis.
Seperti yang telah disinggung sebelumnya dan juga telah di
jelaskan pada SINUS PARANASALES, ternyata dari setiap sinus terdapat ductus
yang menyambungkan masing-masing sinus dengan cavitas nasi yang namanya
biasanya diawali dengan naso- atau diakhiri dengan –nasalis.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar