Senin, 23 Oktober 2017

Anatomy of Nervous System of Human

ANATOMY OF NERVOUS SYSTEM OF HUMAN

BASIC CONCEPT

Neuron mengonduksi impuls elektrik antara SSP dan SST. Terdiri dari badan sel yang memproses sinyal neuron. Kumpulan badan sel di SSP dinamakan nukleus, sementara di SST dinamakan ganglion. Kumpulan akson di SSP dinamakan traktus (ini merupakan sebab penamaan traktus piramidalis yang terdiri dari korteks serebri sampai medulla spinalis), sementara di SST dinamakan nervus. Dendrit merupakan struktur yang menerima rangsangan dari akson terminal. Sel neuroglia merupakan sel yang melindungi dan membantu neuron. SSP terdiri dari substansia alba (kumpulan traktus pada SSP) dan substantia gratia (kumpulan ganglion pada SSP). Pada otak dan batang otak, substantia alba berada di dalam dan gratia di luar, sementara susunan pada medulla spinalis merupakan kebalikannya. Fungsi utamanya adalah untuk homeostasis (sebagai peregulasi sistem metabolisme, suhu, cairan, dan sebagainya) dan untuk kepentingan aktivitas sehari-hari

SEREBRUM

Merupakan bagian terbesar dari otak yang terletak pada fossa cranii anterior dan medialis. Serebrum dibagi menjadi telencephalon (inggris tele: jauh, merupakan bagian terdepan dan paling berkembang dari otak manusia) yang membentuk hemisfere serebri dan diencephalon (inggris di: melewati, yaitu bagian yang paling belakang dan kaudal dari otak) yang membentuk bagian utama dari serebrum. Substantia grisea merupakan bagian dari korteks serebri dan nukleus basalis. Substantia alba merupakan bagian yang membentuk serabut komisura (struktur yang menyatukan hemisfer kanan dan kiri), serabut asosiasi (yang menyambungkan beberapa bagian kortikal), dan serabut proyeksi (yang menyatukan korteks dan bagian di bawahnya).

BASIC STRUCTURE OF HEMISPHERE CEREBRII

Terdiri dari girus (yunani guros: cincin, latin cincin: orb), sulcus (latin sulcus: lekukan), dan fissura (latin findere: membelah, lebih curam daripada sulcus). Cerebri terbagi atas lobus frontal (berguna untuk fungsi kognisi, kegiatan motor, pengontrol emosi, dan keluaran kata), pariteal (sebagai pengatur sensasi dan persepsi spasial, terutama pada hemisfer yang nondominan), temporalis (berfungsi sebagai ingatan, memori, dan komprenhensi pembicaraan, terutama pada hemisfer dominan), dan oksipitalis (mengatur persepsi visual).

LOBUS FRONTALIS

Sebagai area motoris primer (area broadman betz 4, terdapat juga pada traktus piramidalis) di gyrus presentalis, sebagai area motorik sekunder (broadman 6, sebagian area 8, 4 & 45), dan area bicara motorik (output kata-kata) broca

LOBUS PARIETALIS

Sebagai area sensoris dan persepsi spasial (area broadman 3,1,2 di gyrus postcentralis dan area broadman 5&7)

LOBUS OKSIPITALIS

Area visual primer dan sekunder

LOBUS TEMPORALIS

Merupakan area auditoris primer dan sekunder dan area bicara sensoris wernicke (merupakan area yang dapat mengatur alur pembicaraan).

KORTEKS SEREBRI

Merupakan area yang dapat membedakan dan menghubungkan informasi yang diterima dengan memori masa lalu dan menanggapinya dengan cara diterima, disimpan, atau diubah menjadi aksi.

SUBKORTEKS: BAGIAN DALAM DAN DIENSEFALON

(diensefalon merupakan bagian yang terdapat paling kaudal (inferioposterior). Di atas disebutkan bahwa bagian dalam ini yang terdiri dari commisural, association, dan projection pathway merupakan bagian dari substansia alba (substansia alba merupakan bagian yang terdiri dari banyak serabut saraf/traktus)) terdiri dari jalur komisural yang menghubungkan antarhemisfer, asosiasi yang menghubungkan antara bagian dalam otak dengan bagian dalam yang lainnya, dan proyeksi yang menghubungkan korteks dengan bagian bawahnya. Grey matter pada otak terdapat di luar, sedangkan white matter terdapat di dalam.

BAGIAN DALAM HEMISFER TERDAPAT:

Ganglia basalis yang merupakan substansia grisea di dalam hemisfer (substansia grisea merupakan badan sel di otak, grey matter) yang terdiri dari corpus striatum (latin striatus: lekuk bekas tergores) yang memiliki nucleus caudatus (latin nucleus: bagian dalam) dan nucleus letiformis yang terdiri dari globus pallidus (latin globus pallidus: bola yang pucat) dan putamen (latin putamen: kulit kacang), nucleus amigdala, dan claustrum.

Ganglia basalis berperan dalam pengendalian postur dan gerakan volunter (cerebellum juga melakuakan gerakan volunter yang halus), aktivitasnya diinisiasi oleh informasi dari korteks area premotorik dan motorik suplementer, konteks sensoris primer, talamus, dan batang otak, dan aliran keluarnya memengaruhi area motorik korteks serebri (frontalis) atau pusat lain di batang otak dan tidak ada kontrol langsung jaras desenden (turun) ke batang otak atau medulla spinalis

DIENSEFALON

(merupakan bagian paling kaudal dari otak dan inferior) merupakan inti cerebri sentralis, dan struktur yang terletak di bidang sagitalis. Diensefalon terdiri dari talamus (yang berfungsi untuk menyambungkan sinyal motoris dan sensoris ke korteks serebral), subtalamus (terletak di sebelah ventral dari talamus), epitalamus (yang berfungsi menghubungkan sistem limbik ke bagian lain otak), dan hipotalamus (yang memiliki banyak fungsi fisiologis endokrinalis).

TALAMUS

Merupakan substansia grisea diensefalon yang membentuk bagian utamanya (substansia grisea (grey matter) merupakan badan sel yang menjadi bagian terluar otak dan diensefalon). Talamus mengintegrasikan berbagai informasi ke korteks serebri dan regio subkortikal (serebelum, ganglia basalis, dan talamus), penting sebagai pusat penghantar sensor dan motor yang melibatkan serebelum dan nuklei basalis (kata nuklei merupakan bentuk jamak dari nukleus, kumpulan badan sel pada SSP, kata ini dipilih atas ganglion disebabkan penggunaannya yang lebih cocok, ganglion merupakna kumpulan badan sel pada SST), pusat seluruh sistem sensoris utama (kecuali olfaktorius, N.I merupakan nervus sensoris untuk penciuman), mengintegrasikan informasi viseral dan somatis (informasi viseral merupakan informasi yang mencakup ANS, sedangkan informasi somatis merupakan informasi yang melibatkan saraf sadar), menghantarkan sensasi umum ke kesadaran (sensasi merupakan kerja lobus parietalis pada otak), dan menentukan irama emosional, dan mekanisme memori yang baru (diketahui bahwa talamus merupakan bagian medial dari lobus temporal otak yang bertanggung jawab terhadap memori yang dikenal dengan sistem limbik).

HIPOTALAMUS

Merupakan area yang kecil yang terletak dekat dengan talamus, dinding lateral ventrikel ketiga, sistem limbik (sistem yang berhubungan dengan insting dan mood), traktus ascendence , descendence, dan hipofisis. Struktur ini berhubungan dengan hipofisis melalui dua jaras: serabut saraf dan vaskuler (hipofisis merupakan kelenjar yang di dalamnya banyak dijumpai berbagai macam hormon yang berhubungan dengan sistem vegetatif dan seksual). Hipotalamus merupakan pusat sistem saraf otonom (saraf viseralis eferen, yang terdiri dari sistem saraf simpatis dan parasimpatis) dan sistem endokrin, hal ini membuatnya menjadi pusat pengendalian homeostasis tubuh (hal ini logis disebabkan oleh otomatisasi ANS yang membuatnya menjadi pusat homeostasis yang bekerja juga secara otomatis. Hal ini merupakan salah satu tema besar fisiologi yang disebut dengan umpan balik negatif (negative feedback). Sinyal yang mengaktifkan hipotalamus dihasilkan oleh sistem endokrin, sedangkan umpan baliknya oleh sistem saraf otonom. Aspek homeostasis yang diatur di hipotalamus adalah pengaturan suhu, cairan tubuh, rasa lapar dan haus, perilaku seksual, dan perilaku/emosi (merupakan keluaran sistem endokrin)).

SISTEM LIMBIK DAN FORMATIO RETICULARIS

SISTEM LIMBIK

Merupakan sekelompok struktur yang terletak di antara korteks serebri dan hipotalamus. Sistem ini terdiri atas hippokampus (yunani hippos: horse dan kampos: monster laut, kuda laut), amigdala (yunani, kacang almond), nukleus talamikus anterior, dan korteks limbik (latin cortex: bark (bark dapat berarti kulit kayu, lebih tepatnya lapisan terluar yang melapisi suatu organ atau struktur)). Sistem ini berhubungan dengan sensasi emosi serta respons viseral yang menyertai emosi tersebut (berbeda dengan hipotalamus (yang tidak termasuk sistem limbik) yang bekerja didasari oleh endokrin, sistem ini didasari oleh sistem kompleks saraf).

FORMATIO RETICULARIS

Membentuk jaringan (reticular, latin rete: jaring) yang membentang ke atas sepanjang sumbu CNS (CNS terdiri dari otak dan medula spinalis) dari medulla spinalis, batang otak, subtalamus, hipotalamus, talamus, serebrum. Sistem ini menerima input dari seluruh sistem sensoris (tugas ini dijalankan karena terdapat traktus yang merupakan kumpulan serabut saraf). Sistem ini memiliki serabut-serabut eferen (keluar) yang memengaruhi kerja saraf pada tingkat SSP (perhatikan bahwa hipotalamus yang berguna untuk mengendalikan emosi dan ANS tergabung dalam sistem ini, perhatikan juga bahwa sistem limbik tidak termasuk), berguna untuk mengendalikan otot rangka (unsur yang dikendalikan berupa tonus dan refleks yang merupakan sistem somatis SST), pengendalian sensasi somatik dan viseral (termasuk ke dalam SST), pengendalian susunan saraf otonom dan endokrin (perhatikan fungsi struktur hipotalamus), dan sistem aktifasi retukular untuk kesadaran (perhatikan bahwa sistem ini bukan mengatur perihal rangsang aferen atau respons eferen, tetapi keduanya). Formatio retikularis ini membangkitkan kesadaran dengan adanya impuls yang diterima organ reseptor (yang dilanjutkan oleh sistem aferen).

SEREBELUM

Memiliki substansia grisea di luar (yang berisi kumpulan badan saraf), dan substansia alba di dalam (yang berisi kumpulan serabut saraf), terletak di fossa cranii posterior (arah kaudal, tetapi bukan yang paling kaudal), berhubungan dengan tentorium serebeli (latin tentorium: tenda) di superior, berhubungan dengan batang otak melalui pedunculus sereberalis (pedunculus memiliki arti cabang. Perhatikan beda antara pedunculus dengan batang otak itu sendiri), dan terletak posterior terhadap ventrikel keempat, pons, dan medulla oblongata (urutan batang otak: mesensefalon, pons, medula oblongata, dan medula spinalis).

FUNGSI SEREBELUM


Sebagai pengintegrasi informasi aferen yang datang dari berbagai sumber, kordinasi gerakan volunter, dan menerima informasi mengenai keseimbangan dari N.VIII (N.VIII merupakan saraf kranialis yang mengatur keseimbangan dan saraf sensoris pendengaran). 

Rabu, 18 Oktober 2017

Central and Peripheral Nervous System

THE NERVOUS SYSTEM (CENTRAL & PERIPHERAL NERVOUS SYSTEM)

ORGANISASI KOMPLEKS SISTEM SARAF

Terdiri dari SSP dan SST. SSP terdiri dari otak dan medula spinalis, sedangnkan SST terdiri dari saraf somatis yang terdiri dari saraf motorik dan saraf sensoris. Saraf motorik terdiri dari saraf somatis dan otonom. Saraf somatis terdiri dari saraf kranialis dan saraf vertebralis, sedangkan saraf otonom terdiri dari saraf simpatis dan parasimpatis.

Menurut fungsinya, sistem saraf dibagi menjadi saraf sensoris yang terdiri atas saraf somatik (yunani soma: tubuh) dan vieral, dan saraf motoris, dan saraf motoris yang terdiri dari somatis dan autonomis.

SUSUNAN SARAF PUSAT

SSP terdiri dari serebrum (terdiri dari dua hemisfer, kanan dan kiri), serebellum, batang otak, dan medulla spinalis.

Perjalanan dasar saraf motoris dan sensoris SSP adalah dari serebrum/serebelum ke batang otak, kemudian ke medulla spinalis. Perjalanan dimulai dari korteks (latin cortex: moncong/bagian terluar dari batang, cabang, maupun ranting), subcorteks (latin sub: di bawah/dekat dengan), mesencephalon (yunani mesos: tengah, en: di dalam, dan kephale: kepala), pons (latin pons: jembatan), medulla oblongata (latin oblongata: yang diperpanjang).

CEREBRUM

Korteks serebri terdir dari lobus frontalis yang berfungsi sebagai kegiatan motor, kognisi, pengontrol emosi, dan keluaran kata, lobus parietalis yang berfungsi sebagai pengatur sensasi dan persepsi spasial terutama pada hemisfer yang nondominan, temporalis yang mengatur ingatan, memori, dan komperhensi pembicaraan pada hemisfer yang dominan, dan oksipitalis yang berfungsi mengatur persepsi visual.

BATANG OTAK & CEREBELUM

Terdiri dari mesensefalon yang berkaitan dengan penglihatan, pendengaran, kontrol motoris, tidur, alarm tubuh, dan regulasi suhu,           pons yang berfungsi sebagai jembatan antara bagian atas dan bawah otak, medulla oblongata yang berfungsi mengatur pernafasan, fungsi pembuluh darah dan hati, pencernaan, bersin, dan menelan (terutama bernafas dan sirkulasi), dan serebelum yang berfungsi sebagai informasi dari sistem sensoris (jika pons merupakan jembatan yang dapat menghubungkan informasi sensoris dan motoris, maka serebelum ini hanya untuk sistem sensoris) dan mengordinasi pergerakan volunter seperti postur, keseimbangan, kordinasi, dan berbicara, kesemuanya berhubungan dengan gerakan otot yang halus dan seimbang.

FUNGSI BATANG OTAK

Pada mesensefalon terdapat N.III yang berfunsi sebagai penggerak otot mata (fungsi mesencephalon salah satunya untuk melihat), di antara mesensefalon dan pons terdapat saraf IV yang berfungsi sebagai penggerak otot orbicularis superior pada mata, pada pons terdapat N.V, VI, VII, VIII yang berfungsi masing-masing untuk sensasi pada wajah dan fungsi motoris, kontrol otot rectus lateralis, otot wajah dan rasa dari 2/3 bagian anterior lidah (di bagian itu terdapat papillae fungiformis dan filiformis), dan pendengaran dan keseimbangan (yang berhubungan dengan organ di telinga), pada medulla oblongata terdapat N.9, 10, dan 11 yang masing-masing berfungsi sebagai pembawa informasi sensoris ke atas dan motoris ke bawah, mengontrol hati, paru, dan saluran pencernaan, dan mengatur otot sternokleidomasteus (otot sebagai pembatas regio leher) dan trapezius (otot leher bagian belakang), pada medulla spinalis, terdapat N.XI (fungsi sudah disebutkan sebelumnya).
Serebelum menerima impuls sensoris (sebagai perasaan getar, gerak, sikap, dan posisi) dan memiliki peran sebagai pengubah impuls motoris (juga mengatur gerakan halus yang volunter, seperti sudah ditulis sebelumnya).  

MEDULLA SPINALIS

Dimulai sebagai kelanjutan medulla oblongata (batang otak terdiri dari mesensefalon, pons, medulla oblongata, dan medulla spinalis) dan berakhir sebagai konus medularis (latin conus: kerucut) setinggi L1-L2. Nervus spinalis keluar dari medulla spinalis (n. Spinalis merupakan lawan dari n. Cranialis yang merupakan SST somatis). Perjalan rangsangan saraf somatis (ke atas) dan motoris (ke bawah) di SSP terjadi pada traktus (latin trahere: mengambil, traktus merupakan kumpulan serabut saraf pada SST dan mempunyai asal yang sama dan tempat berakhir yang sama dalam SST).

TRACTUS PYRAMIDALIS

Dimulai dari area of broadman (merupakan area yang berbeda-beda pada korteks serebri yang dinamai sesuai dengan karakteristik sitoarsitekturalnya. Di dalamnya terdapat sel betz yang merupakan sel berbentuk piramid yang berlokasi di lapisan kelima dari grey matter (grey matter merupakan kumpulan nuclei)) yang terletak di korteks serebri kemudian ke korona radiata (latin corona: mahkota dan radius: berkas, merupakan lapisan white matter (white matter adalah lapisan yang memiliki serabut saraf di otak) yang bersambung ke kapsul internal dan ke belakang sebagai sentrum semioval), setelah itu menuju kapsula interna (kapsula interna dan corona radiata merupakan bagian dari subkorteks serebri), berlanjut ke bagian tengah dari pedunculus serebri (pedunculus sendiri merupakan sebutan dari batang otak yang menyambungkan berbagai struktur di otak, dan terdiri dari baik grey matter maupun white matter) yang terletak di bagian mesensefalon, pes pontis (latin pes: kaki) pada pons, decussatio pyramidum (latin decussatio: persilangan biasa disebut kiasma) pada medulla oblongata (dalam angka, terdapat 70-80% persilangan di kiasma dan 10-30% sisanya tidak bersilang), berlanjut funiculus lateralis (funiculus merupakan bagian dari white matter medulla spinalis (white matter pada medulla spinalis merupakan struktur yang terdiri dari serabut saraf)) pada medulla spinalis, kemudian ke kornu anterior (latin cornu: tanduk, berbeda dengan cornu pada tulang hyioid pada laring. Sama dengan pada laring, struktur ini juga menyerupai tanduk pada medulla spinalis yang terdiri dari gryey matter (seperti white matter pada medulla spinalis, grey matter ini juga kebalikan dari yang berada di otak. Di sini, grey matter terletak di dalam, sementara otak di luar. Kandungannya tetap sama dengan otak, yaitu badan sel)) yang masih berada di medulla spinalis (perhatikan bahwa terdapat gerakan dari superfisial ke profundus pada traktus ini), dan bermuara ke nervus spinalis (merupakan cabang secara struktur dari saraf somatik SST).

PERIPHERAL NERVOUS SYSTEM

Menurut strukturnya, SST terbagi menjadi saraf somatik (yang terdiri dari saraf kranialis dan spinalis) dan otonom (yang terdiri dari saraf simpatis dan parasimpatis). Menurut strukturnya juga dapat dibagi saraf ini kepada saraf somatik aferen (mengarah ke dalam), somatik eferen (mengarah ke luar), viseralis aferen, dan viseralis eferen (disebut juga saraf otonom, seperti yang disebutkan sebelumnya. Ini mengindikasikan bahwa saraf otonom banyak terdapat di organ-organ viseral (dalam)) yang terdiri dari sistem simpatis dan parasimpatis. Masih pada pembagian yang terakhir, SST ini juga terbagi menjadi saraf kranialis dan spinalis menurut asalnya.

PERBEDAAN SARAF SOMATIK DAN VISERAL

Saraf somatik merupakan saraf yang menurut sistem serebrospinalis, sedangkan saraf viseral merupakan saraf yang menurut kepada sistem vegetatif. Saraf somatik menginervasi kulit, lapisan mukosa, tendon, dan otot rangka, sedangkan saraf viseral menginervasi organ viseralis, kelenjar, pembuluh darah, dan otot halus. Sistem somatik bekerja secara sadar, sedangkan sistem viseral secara tidak sadar. Keduanya ada yang kranialis dan spinalis.

N. CRANIALES

Terdiri dari N.I (olfactorius, penciuman), N.II (opticus, penglihatan), N.III (N. Oculomotorius, gerakan bola mata, elevasi palpebra, kontraksi pupil), N. IV (N. Trochlearis, gerakan bola mata ke laterocaudal), N. V1 (ophthalmicus, sensoris dahi), N.V2 (maxillaris, sensoris rahang dan pipi), N.V3 (mandibularis, sensoris rahang bawah dan motoris mengunyah), N. VI (abducens, gerakan bola mata ke lateral, hanya menginervasi otot rectus lateralis), N.VII (facialis, pengecapan dan saliva/lakrima/mimik), N.VIII (vestibulocochlearis, pendengaran, keseimbangan), N.9 (glossopharyngeus, perasa 2/3 lidah anterior dan sekresi), N.10 (vagus, ANS pada usus dan bronkus), N.11 (accessorius, produksi suara dan gerakan kepala/bahu), N.12 (hypoglossus, gerakan lidah, bicara, dan menelan)

ANS (AUTONOMIC NERVOUS SYSTEM)

Nama lain dari ANS adalah visceral efferent motor system (sistem motoris efferent (ke luar) dan visceral (organ dalam)). ANS memiliki fungsi meregulasi organ dalam (seperti nama lainnya) untuk mempertahankan homeostasis dan memiliki karakteristik hanya motorik (bukan sensoris), otot jantung, dan otot polos (untuk organ dalam dan pembuluh darah), dan kelenjar, dan impuls sensoris (meskipun fungsi ANS tidak pada sensoris, tetapi secara struktural neuron ANS dapat menerima impuls sensoris) harus melewati neuron aferen (ke dalam) baik pada organ dalam maupun pada organ somatis (bagian tubuh).

PEMBAGIAN

Organ ANS (perhatikan bahwa ANS tetap berkordinasi secara holistik dengan bagian sistem saraf lainnya pada tubuh meskipun termasuk SST) dibagi menjadi organ ANS sentral yang berasal dari lobus frontalis, sistem limbik, hipofisis, dan hipotalamus yang bekerja sebagai kordinator dan eksekutor dan organ ANS perifer yang dibagi menjadi organ simpatis yang berasal dari truncus (latin truncus: badan) thoracolumbalis (T1-12 dan L1-3) dan organ parasimpatis yang berasal dari truncus craniosacralis (kranium: N.III (oculomotoris), VII (facialis), 9 (glossofaringeus), 10 (vagus) dan S2-4).

ARTERI: CIRCULUS WILLIS

Terdiri dari A. Cerebri anterior, cerebri media, posterior, A. Vertebralis (latin vertere: belok), basilaris,  carotis interna, dan basilaris.

SINUS DURAEMATRIS

Merupakan saluran vena yang dibatasi oleh endotel pada dura mater. Terdiri dari sinus 2 (latin sinus: lengkung), falx cerebri (latin falx: celurit), confluens sinuum (berarti sinus-sinus yang bergabung dalma satu titik), tentorium cerebelli (latin tentorium: tenda), dan falx cerebelli (latin falx: celurit).

LIQUOR CEREBROSPINALIS

Merupakan cairan yang disekresikan oleh pleksus koroideus pada ventrikel otak yang memenuhi cavitas ventrikel dan subaraknoid pada otak dan medulla spinalis. Terdiri dari spatium subarachnoiodalis, ventrikel lateralis (I dan II, kanan dan kiri), tertius (III), dan quartus (IV), aquaductus sylvii, foramen luschka (apertura lateralis (latin apertura: bukaan)), dan foramen magendie (apertura mediana). Pada ventrikel I-IV, dibentuk oleh plexus choroideus.

THE COVERAGE OF THE BRAIN AND SPINAL CORD


Terdiri dari lapisan bertulang yang dibentuk oleh kranium dan vertebra. Bagiannya adalah calvaria yang dilindungi oleh scalp (kulit yang melindungi tengkorak) yang terdiri dari kulit, jaringan ikat, aponeurosis, jaringan ikat longgar) dan disangga oleh basis cranii dan bagian yang bermembran (meninges, latin mening: membran) yang berupa tiga membran (dura mater, arachnoid, dan pia mater) yang mengelilingi cranium dan kanalis vertebralis dan menutup otak dan medula spinalis. 

Basic Neurology

BASIC NEUROLOGY

CONTENT

Akan dibahas mengenai organisasi sistem saraf, cara berfikir neurologis, proses patologis pada neurologi, dan investigasi neurologi.

STRUKTUR

Sistem saraf terdiri dari SSP (sistem saraf pusat) dan SST (sistem saraf perifer/tepi). SSP terdiri dari otak dan medula spinalis (medula spinalis merupakan bagian yang mengonduksi impuls sensoris dan motorik dari dan ke otak. Bagian ini menjalar dari dasar otak ke bagian atas lumbar melalui kanal vertebralis), dan SST terbagi menjadi saraf somatis yang terdiri dari saraf spinalis (merupakan saraf campuran yang membawa impuls motoris antara spinal kord dan tubuh, terdiri dari 31 saraf yang menjalar dari kanal vertebralis) dan kranialis (saraf yang menjalar langsung dari otak, terdiri dari 12 pasang saraf) dan saraf otonom yang tediri dari sistem parasimpatis (rest and digest) dan sistem simpatis (fight or flight).

UMN (upper motor neuron) vs LMN (lower motor neuron)

UMN merupakan saraf yang dimulai dari motor cortex pada otak dan berakhir di medula (bagian lain dari otak) atau spinal cord. Kelainan pada otak dapat berakibat pada spastisitas dan refleks yang berlebihan, sedangkan LMN merupakan neuron motoris yang berlokasi pada anterior grey column, anterior nerve roots (disebut juga LMN spinalis) atau nukleus (badan saraf pada SSP) dari saraf kranialis pada batang otak, dan saraf kranialis yang memiliki fungsi motoris (LMN kranialis). UMN merupakan saraf motoris dari korteks serebri maupun pada batang otak dan membawa informasi motoris yang disalurkan melalui LMN

ORGANIZATION OF THE NERVOUS SYSTEM

Sistem saraf sangat kompleks dan memiliki berbagai level bagi sebagian teoriawan. Level ini yang kemudian akan berguna bagi klasifikasi masalah klinis.

TERMINOLOGY

Berbagain terminologi pada sistem saraf: ensefalopati (ketidaknormalan pada otak dan dapat diperjelas oleh fokal, difus, metabolis atau toksik), myelopati (ketidaknormalan pada spinal cord), radiculopati (ketidaknormalan pada sebuah akar saraf), poliradikulopati (banyak akar saraf), pleksopati (ketidaknormalan pada pleksus (pleksus adalah jaringan saraf atau pembuluh darah pada tubuh)), polineuropati/neuropati (ketidaknormalan pada banyak saraf), nomoneuropati (ketidaknormalan pada salah satu saraf yang sudah diberi nama), dan miopati (ketidaknormalan pada otot), dan meningitis (inflamasi pada meningen)
SSP

Terdiri dari hemisfer serebral (yunani hemi: setengah dan sphaira: lingkaran, merupakan setengah bagian otak jika dibagi dengan bidan sagitalis dan dinamai dengan bagiannya di kranium (misal frontal terletak di dekat tulang frontal, temporal pada bagian temporal kranial, dan sebagainya)), ganglia basalis (yunani ganglion: tumor dekat tendon, merupakan kelompok dari nuklei subkortikal (nuklei adalah jamak dari nukleus, merupakan badan sel saraf pada SSP), dan berlokasi pada dasar otak frontalis), serebelum (otak kecil), batang otak, dan spinal cord

THE CEREBRAL HEMPISPHERES

(Hemisfer serebralis merupakan otak besar jika dibagi dua oleh bidang sagitalis) terdiri dari bagian frontal yang mengontrol kegiatan motorik dengan cara bersebrangan (hemisfer kiri mengatur kanan dan sebaliknya), kognisi (kemampuan untuk mengenal seseorang atau benda), kontrol emosi, dan keluaran kata (pada hemisfer dominan), temporal yang mengatur ingatan, memori, dan komprehensi dari pembicaraan pada hemisfer yang dominan, parietal yang mengatur sensasi dan persepsi spasial, terutama pada hemisfer nondominan, dan oksipital yang berfungsi untuk mengatur persepsi visual . Yang dimaksud dengan dominan di sini adalah salah satu hemisfer (kiri atau kanan) lebih dominan daripada bagian lainnya.

BRAIN STEM

Memiliki formasi reticular (latin reticulum: jaring, merupakan kelompok nukleus yang saling berhubungan yang terletak sepanjang batang otak) yang mempertahankan kesadaran, nervus kranialis, traktus (bagian yang terdiri dari serat saraf pada tubuh) motoris yang mengarah ke bawah (traktus motoris berasal dari otak menuju ke SSP), dan traktus sensoris yang mengarah ke atas.

 Dari batang otak ini menjalar nuklei beberapa saraf kranialis (bagian dari SST yang menjalar langsung dari kranial). Di antaranya N.III dan IV dari otak tengah, N.VI dan VII dari pons (latin pons: jembatan), dan N.XII dari medula.

SST (sistem saraf tepi/perifer)

Terdiri dari akar saraf, pleksus brakilalis (latin bracchium: lengan), radiks (latin: akar), dan lumbosacralis (latin: lumbus (bagian tubuh dari rusuk terbawah dan tulang pinggul) dan sacer: suci), dan saraf perifer. Pleksus brakhialis bercabang menjadi N. Radialis, medialis, dan ulnaris (sesuai letak anatominya), radiks bercabang menjadi pleksus saraf perifer yang terdiri dari saraf motoris, sensoris, dan otonom. Pleksus lumbosacralis bercabang menjadi N. Femoralis, ischiadicus, dan pudendus.

AUTONOMIC NERVOUS SYSTEM

Terdiri dari sistem saraf simpatis yang berasal dari segmen T1 sampai L2 dan parasimpatis yang menjalar dari batang otak (yang memiliki hubungan dengan nervus kranialis 3. 7, dan 9 (okulomotoris, fasialis, dan glossofaringealis)) dan segmen spinalis S2-4



Senin, 16 Oktober 2017

Kelainan Eyelid (Palpebra)

KELAINAN EYELID (PALPEBRA)
EYELID FUNCTIONS

Fungsi-fungsi kelopak mata: 1. Untuk melindungi bola mata secara fisika dan kimia, 2. Untuk irigasi dan lubrikasi (melumuri dengan sesuatu suatu komponen untuk meminimalkan gesekan dan memudahkan pergerakan, terutama yang halus) dengan air mata dan sekresi kelenjar-kelenjar palpebral, dan untuk mengedip (menggunakan otot levator sebagai pengangkat dan obturator untuk menutup)

EYELID CLOSURE
Dibantu oleh otot orbicularis oculi (latin orbis: cincin) yang dipersarafi oleh N.VII (N. facialis). Bagian preseptal (septum palpebral merupakan bagian yang membatasi bagian anterior bola mata dan palpebra) dan pretarsalnya (tarsal merupakan tendon otot levator palpebral yang berinsersio ke palpebra) merupakan origo. Seratnya berlanjut ke daerah atas kantung lakrimalis dan jika berkontraksi akan meningkatkan ekskresi lakrimalis
TO OPEN THE EYELID
Dibantu oleh otot levator palpebral yang memunyai insersio di bagian anterior tarsal (dijelaskan sebelumnya).
TRIKIASIS
Pada bagian ini, penjabaran mengenai penyakit dimulai. Trikiasis merupakan bulu yang salah arah tumbuhnya dibandingkan dengan asal yang normal. Jika dibiarkan lebih lanjut, dapat terjadi ulserasi kornea (yang juga merupakan komplikasi tersering dari konjungtivitis) dan terbentuknya pannus (cloth, seperti pada pembekuan darah). Tatalaksananya adalah dengan epilasi (pencabutan bulu mata yang tidak normal), elektrolisis (menggunakan panas yang berasal dari daya listrik), krioterapi (menggunakan dingin yang ekstrim untuk pengobatan), menggunakan laser yang berasal dari argon, dan operasi.
MASUKNYA TEPI PALPEBRA
Pada involutional entropion (penyakit degeneratif), terjadi degenerasi jaringan fibrosa dan elasitis (jaringan konektif elastis memberikan elastisitas, dapat memanjang) pada kelopak mata. Pada entropion sikatrik, terjadi skar (pertumbuhan jaringan fibrosa berlebihan, biasanya setelah luka) yang dapat menarik palpebra ke arah bola mata. Pada entropion kongenital terjadi kelainan yang merupakan akibat dari mikroftalmos (yunani, micros: kecil dan ophthalmos: mata) atau perkembangan yang kurang baik dari otot retraktor palpebral inferior.
ECTROPION
Merupakan kejadian palpebra mengarah ke luar (perhatikan bahwa posisi bola mata yang terlalu mengarah ke dalam maupun ke luar merupakan kondisi yang tidak baik bagi mata). Dapat diklasifikasikan sebagai ektropion involusional (sama halnya dengan entropion involusional, keadaan ini merupakan efek degeneratif), ektropion sikatrik (kejadian penumpukan skar pada palpebra yang menyebabkan bulu mata mengarah ke luar), ektropion paralitik (merupakan kelainan yang terjadi karena paralisis N.VII (N.VII merupakan saraf yang menggerakkan otot orbikularis, jika otot ini tidakdapat berkontraksi maka terjadi kelemahan dan kelopak mata yang mengarah ke luar)), dan ektropi mekanis (merupakan efek dari stres mekanis).
LAGOPHTHALMOS
(inggris lag: memanjang dan latin ophthalmos: mata, keadaan penampakan mata yang membesar disebabkan oleh melebarnya palpebra) Merupakan kelemahan dalam menutup mata. Kejadian ini banyak terjadi setelah blepharoplasty (yunani, blepharon kelopak mata, plasmos: membentuk, merupakan operasi untuk membentuk kelopak mata), pada ektropi paralitik (yang terjadi pada kelemahan N.VII), dan setelah pembetulan ptosis (ptosis adalah kelemahan otot levator palpebrae yang menyebabkan kelopak mata terlihat seperti kendur).
LID LAG
Merupakan kejadian terlambatnya penutupan kelopak mata atas, seringkali diasosiasikan dengan retraksi kelopak mata (retraksi menyebabkan kelopak mata tertarik ke arah atas (retraksi otot levator palpebral yang dipersarafi oleh N.III)).
PTOSIS
Merupakan kejadian posisi kelopak mata atas abnormal yang dapat berupak efek kongenital maupun didapatkan (acquired), sedangkan pseudoptosis (yunani pseudes: false) dapat disebabkan oleh kekurangan penyangga (terjadi pada beberapa otot), retraks kelopak kontralateral (bagian kontralateral dari kelopak mengalami retraksi, mata seperti melotot sebagian), ptosis ipsilateral (ptosis yang terjadi pada salah satu mat (dextra/sinistra)), brow ptosis (kulit alis yang berlebihan), dan dermatokalasis (berlebihannya kulit kelopak mata). Pengukuran ptosis dilakukan dengan  cara margin reflex distance (dengan mengukur ukuran margin antarkelopak mata (atas dan bawah), ukuran normal kelopak mata adalah 9mm, 4mm atas dan 5mm bawah, dilakukan juga tes refleks cahaya), vertical fissure heigt (merupakan pemisahan antara margin atas dengan tengah pupil dan margin bawah degan tengah pupil, jika terjadi gap yang jauh, dimungkinkan terjadi paralisis), levator function (dilakukan dengan mengukur ukuran margin palpebral atas dengan penggaris saat dimulai saat pandangan ke arah bawah sampai pandangan ke arah atas, ukuran normal pengukuran ini adalah 15mm), upper lid crease (merupakan jarak antara margin kelopak mata sampai lid crease pada saat seseorang melihat ke bawah. Normalnya, wanita memiliki 10 mm upper lid crease dan pria memiliki 8 mm upper lid crease), pretarsal show (merupakan pengukuran yang dilakukan ketika mata terbuka, jarak antara margin kelopak sampai garis atasnya normalnya adalah 6mm).
RETRAKSI KELOPAK MATA
Terdapat ketika kelopak mata tertarik ke arah atas (untuk kelopak mata atas) dan bawah (untuk kelopak mata bawah), membuat sklera terlihat di antara limbus dan margin kelopak mata. Normalnya, manusia memiliki kelopak mata bawah yang sedikit turun. Keadaan ini akan menyebabkan lagophthalmus (inggris lag: memanjang, latin ophthalmos: mata, penampakan mata melebar) dan exposure keratitis (disebabkan oleh sulitnya menutup mata (retraksi membuat mata sulit menutup)). Penyebabnya dapat berupa lokal, sistemik, maupun kelainan SSP. Yang paling sering menjadi penyebab retraksi adala grave ophthalmopathy (penyakit tiroid yang menyebabkan penampakan mata membesar). Tatalaksana untuk retraksi ini adalah dengan menyembuhkan faktor etiologis yang menyebabkannya, memberikan air mata buatan, lubrikasi, dan salep mata (ditujukan agar mata tidak kering), dan operasi jika memungkinkan
APPARATUS LACRIMALIS
(latin ad: terhadap/menuju dan parare: membuat siap, digabung menjadi bersiap) terdiri dari kelenjar lakrimalis dan sistem drainasenya (sistem untuk mengalirkan air mata melalui hidung) yang terdiri dari puncta (latin punctum: titik, tempat air mata mengalir dari bola mata menuju kantung lakrimalis, berbentuk titik), kanalikuli (saluran atau duktus yang kecil, kanalikuli merupakan bentuk jamak dari kanalikulus, mengalir melalui dua jalur, supraampul dan infraampul), kantung lakrimalis (latin saccus: tas, kantung) yang biasanya ditekan untuk mencegah lakrimasi, dan nasolacrimal duct (latin ductus: menunjukkan. Sebuah saluran yang lebih besar dari kanalikulus).   
PENYEBAB BECEK
Terdiri dari aspek lakrimasi bila terjadi hipersekresi akibat inflamasi pada daerah mata dan epifora yang merupakan bentuk adaptif kompromisasi oleh proses pembuangan air mata yang merupakan efek dari malposisi, obstruksi, dan kegagalan pompa lakrimasi
EPICANTUS
Adalah lipatan medial dari canthus yang terjadi karena tulang midfasial yang imatur atau lipatan pada kulit atau jaringan subkutan. Biasanya terdapat bilateral. Seorang anak dapat terlihat seperti strabismus (jereng) disebabkan oleh keadaan tersebut (pseudostrabismus. Logis terjadi disebabkan oleh adanya penumpukan jaringan di daerah medial dan menyebabkan tidak terlihatnya sklera pada daerah tersebut). Terdapat empat tipe epikantus: 1. Epicanthus tarsalis yang banyak mengalami pelipatan pada daerah kelopak mata atas (tarsal adalah jaringan ikat padat serupa tendon yang hanya terdapat di kelopak atas), 2. Epicanthus inversus yang memiliki lipatan paling banyak di bagian kelopak bawah, 3. Epicanthus palpebralis yang memiliki lipatan di kelopak atas dan bawah, dan epicanthus supraciliaris yang memiliki lipatan menjalar dari daerah alis sampai ke saccus lakrimalis.
KALAZION

Merupakan inflamasi granulomatus steril dan kronik. Merupakan hasil dari penyumbatan orificium glandula meibomialis (latin or: mulut dan facere: membuat). Gejala dari kalazion ini adalah terdapatnya nodul membesar yang tidak sakit, tetapi dapat menekan kornea dan akan menimbulkan astigmatisme dan berakhir pada kaburnya pandangan (kornea merupakan alat refraksi mata yang utama dan kelainan yang terjadi pada kornea akan membuat pandangan kabur disebabkan oleh adanya refraksi cahaya). Tidak ada tanda-tanda inflamasi dan diterapi menggunakan drainase dan pengambilan operatif dengan 

Minggu, 15 Oktober 2017

Gangguan Waham

GANGGUAN WAHAM

Merupakan gangguan jiwa yang ditandai dengan gejala utama waham sekunder. Dahulu, gangguan waham disebut paranoia atau gangguan paranoid (sekarang lebih berkembang, gangguan paranoid hanya termasuk salah satu dari 10 kategori skizofrenia).

SEJARAH

Esquirol mendefiinsikan gangguan waham sebagai gangguan tanpa disertai defek pada logikanya (aspek kognitif). Kahlbaum mendefinisikannya sebagai kondisi yang memengaruhi kepandaian seseorang tetapi tidak memengaruhi fungsi lainnya.

EPIDEMIOLOGI

Kejadiannya relatif jarang (0,3%). Rendahnya angka tersebut ditengarai karena pasien jarang mencari pengobatan. Insiden setiap tahunnya adalah satu sampai tiga kasus baru per 100.000 orang, sekitar 4% merupakan pasien di RSJ. Usia rata-rata pengidap adalah 40 tahun, lebih sedikit pada wanita, dan lebih banyak pasien yang telah menikah dan bekerja (pada SRRS, menikah memiliki skor yang cukup tinggi sebagai stres yang dapat memengaruhi keadaan seseorang menjadi patologis), berkaitan juga dengan imigran (orang yang melakukan imigrasi dari negara asalnya ke negara lain) dan status ekonomi rendah.

ETIOLOGI

Penyebab utamanya tidak diketahui dan diperkirakan berkaitan dengan riwayat keluarga dan 
kepribadian (rasa curiga, cemburu, rahasia, dll). Terdapat faktor biologis dan neurologis yang memengaruhi timbulnya waham. Seperti kondisi neurologis yang berhubungan dengan sistem limbik dan ganglia basalis (biasanya menandai waham yang simpel (skizofrenia simplex, gangguan yang ditandai dengan gejala negatif, seperti kurangnya efek afeksi, emosi, dan asosiasi seseorang)). Ada juga faktor psikodinamik (yang sering diasosiasikan dengan teori mekanisme pertahanan (defense mechanism) berupa denial dan projection (denial adalah kecenderungan untuk menolak kenyataan atau fakta, berupa kejadian menyakitkan. Seseorang dengan denial tidak mau mengakui adanya hal tersebut. Sedangkan projection adalah penolakan terhadap kejahatan yang ada dalam diri seseorang dengan menyalahi orang lain atas sikapnya yang sama dengan sikap orang tersebut. Contohnya seseorang yang berlaku kasar terus menerus menyalahkan orang lain yang berperilaku kasar), kedua mekanisme tersebut seringkali terjadi pada orang dengan kecenderungan homoseksual).

GANGGUAN WAHAM MENETAP KRITERIA DSM-IV-TR

A.     Waham yang tidak aneh (waham ini merupakan perasaan yang mirip dengan kejadian di dunia nyata, seperti merasa akan diracuni, dikerjar, ditulari virus, atau dikhianati oleh pasangan atau kekasih) selama sekurangnya satu bulan,

B.      Jika kriteria A tidak ada pada skizofrenia (kecuali skizofrenia residual yang masih belum tercatat sebagai skizofrenia),

C.      Jika fungsi sosial tidak terganggu (terlepas dari adanya waham atau tidak)

D.      Jika episode mood telah terjadi secara bersama-sama dengan waham, maka lama total episode tersebut relatif lebih singkat daripada lama periode waham

E.       Gangguan bukan karena efek fisiologis langsung dari suatu zat (contohnya adalah penyalahgunaan obat) atau suatu kondisi medis umum

MACAM WAHAM

Beberapa macam waham: 1. Tipe erotomanik (ketika seseorang percaya bahwa seseorang sedang jatuh cinta kepadanya. Biasanya terjadi pada orang yang terkenal, tetapi bisa juga terhadap orang asing), 2. Tipe grandiose (biasanya terjadi pada pasien dengan gangguan psikiatris, termasuk pasien pada keadaan manic pada gangguan bipolar), 3. Tipe somatik (seseorang dengan tipe ini akan menganggap bahwa dirinya sedang mengalami gangguan medis atau kekurangan fisik), 4. Campuran (adalah gangguan waham dengan kriteria campuran dari kriteria lain), dan 5. Tidak tergolongkan (gangguan yang belum ada pada keempat nomor sebelumnya).

Gangguan waham yang lain berupa sindrom capgras (ketika seseorang merasa bahwa anggota keluarganya adalah orang lain), fenomena freggoli (ketika seseorang menganggap bahwa orang-orang asing merupakan orang yang dikenalnya dan sedang dalam penyamaran), lyencenthopy (waham manusia serigala di Eropa), heutoscopy (keyakinan bahwa seseorang menjadi ganda), dan sindrom cotard (ketika seseorang merasa segala sesuatunya hilang, seperti kekuatannya, keinginannya, juga organ tubuhnya).

GAMBARAN KLINIS

Status mental orang-orang ini biasanya normal kecuali dalam hal berpikir (waham), afek dan emosinya sesuai dengan wahamnya, dan gangguan persepsi biasanya tidak menonjol (berupa halusinasi taktil atau olfaktori) dan timbul berkaitan degnan wahamnay (contohnya seseorang yang merasa akan diracuni terkadang mencium bau racun)

DIAGNOSIS BANDING

Waham dapat berkaitan dengan kondisi medis yang umum dan neurlogis: seperti gangguan ganglia basalis (biasanya berakibat pada parkinson/huntington disease), defisiensi vitamin B12, asam folat, tiamin, niasin, delirium (gangguan ini muncul karena penyakit, seperti demam dan intoksikasi), demensia alzeimer (biasanya demensia disebabkan oleh penyakit otak atau cedera otak),  gangguan fungsi adrenal, thyrooid, paratiroid, epilepsi, CVA, tumor, enselopati, hiperkalsemia, hipokalsemia, porpiria, uremia yang kesemuanya dapat menyebabkan gangguan yang menyerupai waham (perhatikan bahwa waham adalah gangguan fungsi psikologis dan bukan fisiologis, hanya terkadan dilatarbelakangi oleh keadaan fisiologis). Dapat juga salah diagnosis disebabkan malingering, skizofrenia, gangguan mood, OCD, gangguan somatoform, gangguan kepribadian paranoid, dan dapat juga dengan gangguan yang disebabkan oleh obat.

PERJALANAN PENYAKIT

Penyakit ini berkaitan dengan stres psikologis (stres yang berlebihan atau mekanisme adaptasi yang kurang baik), sering bersifat tiba-tiba daripada perjalanan yang lambat (seseorang dapat ketakutan dengan sendirinya (tanpa didasari halusinasi)), tingkat kepandaian penderita rata-rata kurang (menyebabkan seorang akan terkena gangguan ini terus-menerus), ciri kepribadian yang ekstrovert (disebabkan karena banyaknya pengaruh eksternal pada orang tersebut), sensitif (orang yang sensitif cenderung mudah untuk ketakutan terhadap suatu hal), dan perjalanannya kronis dan stabil (seseorang yang wahamnya tidak ditangani dengan tepat akan dijangkit penyakit ini dan semakin parah keadaannya dari waktu ke waktu).

Kurang dari 25% menjadi skizofrenia (beberapa waham menjadi ciri khas gejala skizofrenia, bahkan merupakan kriteria diagnosis yang kuat untuk skizofrenia), kurang dari 10% menjadi gangguan afektif (afeksi merupakan aspek dari kepribadian, gangguan afektif merupakan gangguan yang memengaruhi mood seseorang), 50% sembuh untuk waktu yang lama, 20% hanya penurunan gejala, dan 30% tidak mengalami perubahan gejala.

PROGNOSIS

Prognosis akan baik apabila pengidap memunyai pekerjaan (pekerjaan akan menyingkirkan orang tersebut dari keadaan sendiri dan berwaham dan juga akan membuatnya terpapar oleh orang lain), punya kegiatan sosial, wanita (kasus pada wanita lebih sedikit daripada laki-laki, mungkin disebabkan kelainan struktur neurologis), onset sebelum usia 30 tahun (rata-rata usia waham adalah 40 tahun), onset tiba-tiba (onset yang tiba-tiba mungkin terjadi karena sebab-sebab tertentu yang akan menurunkan gejala jika penyebab tersebut diturunkan), baru terjadi (diagnosis dan penanganan yang tepat dapat menjadi penyebab prognosis yang baik), dan adanya faktor pencetus (disebutkan sebelumnya bahwa faktor pencetus jika diangkat akan menyebabkan gejala menurun). Pada waham somatik (ketika seseorang merasa memiliki gangguan medis), waham kejar (merasa dikejar orang), waham erotik (erotomania, merasa dicintai banyak orang atau orang asing) lebih baik prognosisnya dari waham kebesaran dan waham curiga.

PENATALAKSANAAN

MRS diperlukan untuk menyingkirkan adanya gangguan organik (gangguan yang berasal dari faktor fisiologis), jika terdapat resiko bunuh diri dan kekerasan, dan jika perilaku pasien mengganggu lingkungan keluarganya.

Psikoterapi diberikan untuk menciptakan hubungan terapetik pasien dengan terapis, lebih baik diberikan secara kelompok daripada individual, termasuk di dalamnya adalah terapi oleh keluarga (dengan cara memberika dukungan)

GANGGUAN SKIZOTIPAL

Merupakan perilaku yang eksentrik, pikiran yang aneh, afek yang menyerupai skizofrenia (mengalami gejala negatif pada aspek afektif dan emosi), tetapi tidak memenuhi kriteria skizofrenia (kriterianya adalah salah satu yang menonjol atau dua tidak menonjol dari waham aneh, pikiran aneh, dan halusinasi auditorik (bedakan antara halusinasi dengan waham, halusinasi adalah keadaan seseorang merasakan seperti aslinya, sedangkan waham adalah perasaan yang sangat menjadi-jadi), dan dua yang tidak menonjol di antara halusinasi menetap satu bulan atau lebih, disertai mengambang tanpa kandungan afektif yang jelas, gejala negatif (perhatikan bahwa gejala negatif merupakan gejala minor pada skizofrenia), ide berlebihan, inkoherensi dalam berbicara, dan katatonia). Gangguan ini seperti gangguan afektif dengan gejala ringan skizofrenia.

Keadaan ini terjadi pada 3% populasi, lebih sering pada keluarga penderita skizofrenia, berjalan secara kronis dengan intensitas yang fluktuatif, kadang berkembang menjadi skizofrenia, tidak terdapat onset yang pasti, dan perkembangan selanjutnya menyerupai gangguan kepribadian, suatu riwayat skizofrenia pada salah satu anggot keluarga berpengaruh pada adanya gangguan ini.
Tidak dianjurkan untuk mendiagnosis secara umum karena tidak terdapatnya batas yang jelas dengan skizofrenia simpleks (skizofrenia dengan gangguan kemauan), gangguan kepribadian skizoid, dan paranoid. Diperkirakan 10% penderita melakukan bunuh diri.

DIAGNOSIS GANGGUAN SKIZOTIPAL

Diagnosis ditegakkan bila terdapat tiga atau lebih gejala khas yang terjadi secara terus menerus atau episodik, dan paling sedikit terjadi dua tahun: 1. Flattening affect, 2. Perilaku atau penampakan yang aneh, eksentrik, atau ganjil, 3. Hubungan sosial terganggu dan cenderunga menarik diri, 4. Kepercayaan yang aneh atau pikiran yang magis, 5. Kecurigaan atau ide paranoid, 6. Pikiran obsesif yang sering dengan isi yang bersifat dismorfofobik (kelainan takut dengan tubuh orang lain), seksual, atau agresif, 7. Persepsi yang tak lazim, termasuk mengenai tubuh atau ilusi-ilusi lainnya, depersonalisasi, atau derealisasi, 8. Pemikiran yang samar-samar, sirkumstansial, penuh kiasan, sangat terinci dan ruwet, atau stereotipik, yang bermanifestasi ke dalam pembicaraan yang aneh tetapi tidak terlihat inkoheren (inkoherensi terjadi pada skizofrenia), dan sewaktu-waktu ada episode menyerupai keadaan psikotik yang bersifat sementara dengan ilusi, halusinasi auditoris atau lainnya, dan gagasan mirip waham, biasanya tanpa provokasi dari luar. Diagnosis baru bisa ditegakkan setelah tidak didapatkan kriteria skizofrenia.

PENANGANAN PASIEN

1.      sikoterapi, pikiran yang aneh dan ganjil pasien harus ditangani secara hati-hati, dan tidak boleh menertawakan aktivitas yang aneh dan


2.       Farmakoterapi, dipilih antipsikotik (haloperidol) untuk gagasan mirip waham dan antidepresan untuk komponen depresifnya.

Skizofrenia

SKIZOFRENIA

Arti sebenarnya dari skizofrenia ada kepribadian yang terbelah (gejala khas dari skizofrenia adalah kepribadian yang terpecah antara pikiran, perasaan, dan perbuatan  atau disharmoni ketiga unsur tadi). Angka kejadiannya adalah 1% dari jumlah penduduk (umum), tidak terkati budaya dan suku, dan onset (kemunculan pertama) pada laki-laki biasanya lebih awal (15-24 tahun) daripada wanita (25-34 tahun).

Penyebab dari skizofrenia tidak diketahui secara pasti. Yang diterima saat ini adalah teori yang menyatakan bahwa kejadian ini terjadi secara multifaktorial: faktor internal pencetusnya adalah dari genetik (seseorang yang memiliki orang tua dengan skizofrenia cenderung beresiko mengidapnya), bawaan, dan biokimia, dan faktor eksternal pencetusnya dari trauma, infeksi otak, dan stres. Faktor penyebab (faktor resiko) dari skizofrenia berasal dari keturunan (disebutkan sebelumnya), pola asuh yang salah (faktor eksternal psikologis), maladaptasi (kesalahan adaptasi psikologis dari stres yang mengganggu), tekanan jiwa (termasuk ke dalam maladaptasi yang berat), dan penyakit lain yang belum diketahui (beberapa sudah).

Gangguan jiwa terdiri dari psikosis dan neurosis. Psikosis terbagi lagi menjadi dua, organik yang terdiri dari demensia, delirium dan GMP akibat zat, sedangkan fungsional terdiri dari gangguan psikotik akut, skizofrenia, waham, dan gangguan suasana perasaan.
Sedangkan gangguan neurosis terdiri dari reaksi stres akut, gangguan penyesuaian, ansietas (fobia, panik, ocd), disosiasi/konversi, dan lain-lain.

DEFINISI PSIKOSIS

Menurut Singgih D. Gunarsa, psikosis adalah gangguan jiwa yang meliputi keseluruhan kepribadian, sehingga penderita tidak bisa menyesuaikan diri dalam norma-norma hidup yang wajar dan berlaku umum. Menurut W.F Maramis, psikosis adalah suatu gangguan dengan kehilangan rasa kenyataan (sense of reality).

Kelainan seperti ini dapat diketahui berdasarkan gangguan-gangguan pada perasaan, pikirian, kemauan, motorik, dst. (menurut pengertian Singgih, perhatikan kata-kata “keseluruhan kepribadian” pada deskripsi Singgih) sedemikian berat sehingga perilaku penderita tidak sesuai lagi dengan kenyataan (perhatikan deskripsi Maramis pada kalimat “kehilangan rasa kenyataan”).
Perilaku penderita psikosis tidak dapat dimengerti oleh orang normal (kehilangan rasa kenyataan), sehingga seringkali disebut sebagai orang gila.

PSIKOSIS ORGANIK

Terdiri dari demensia, delirium, dan GMP akibat zat (perhatikan pembagian di atas). Psikosis organik adalah penyakit jiwa yang disebabkan oleh faktor-faktor fisik atau organik (faktor-faktor fisiologis yang dapat dikuantitasi faktornya). Pasien seringkali mengalami gangguan sosial sebagai akibat dari inkompetensinya dalam bersosialisasi.

PSIKOSIS FUNGSIONAL

Merupakan penyakit jiwa yang bersifat nonorganik (berlawanan dengan psikosis organik. Perhatikan pengertian skizofrenia di awal teks. Skizofrenia merupakan penyakit yang bersifat multifaktorial, teori menegaskan bahwa skizofrenia memiliki penyebab yang bersifat organik. hal ini merupakan usaha teoriawan untuk mendefinisikan skizofrenia agar dapat ditemukan obat yang dapat menyembuhkan minimal gejalanya (teori pada obat merupakan teori lock and key yang sangat organik)). Penderita juga mengalami inkompetensi sosial, tetapi ditambah dengan gagal menyesuaikan diri terhadap realitas.

Perbedaan psikotik organik dari organik terdiri dari: 1. Adanya penyakit fisik (pada fungsional tidak ada, penyakit fisik di sini merupakan penyakit penyerta. Perubahan fisik pada penderita psikotik fungsional juga didapatkan, telah dijelaskan sebelumnya), 2. Gangguan orientasi (pada penyakit psikotik fungsional tidak ada gangguan orientasi yang lebih banyak disebabkan oleh gangguan fisik yang mendasarinya), 3. Gangguan daya ingat (pada psikotik fungsional, daya ingat masih baik. Daya ingat ini yang merupakan gejala khas dari salah satu penyakit psikotik organik, juga dilandasi oleh adanya perubahan faktor fisik), 4. Gangguan fungsi kognitif (pada psikotik fungsional, tidak didapati adanya gangguan kepandaian), 5. Gejala fluktuatif (pada psikotik fungsional, gejala menetap sehingga sulit untuk disembuhkan), 6. Halusinasi visual (hal ini hanya merupakan kecenderungan. Beberapa penyakit fungsional juga melibatkan halusinasi visual, selain pendengaran), dan 7. Defisit neurologis (pada fungsional tidak didapatkan kelainan ini, meskipun terkadang kelainan ini melandasi/menjadi faktor resiko terjadinya psikotik fungsional)

Sedangkan perbedaan psikosis dari neurosis dilihat dari 1. Perilaku umum (gangguan terjadi pada seluruh aspek kepribadian (lihat definisi singgih), sedangkan pada neurosis terjadi perubahan sebagian aspek kepribadian dan kontak realitas masih terdapat), 2. Gejala-gejala (gangguan psikosis ditandai dengan gejala yang bervariasi luas, mulai dari waham, halusinasi, kedangkalan emosi, dst yang dapat terjadi secara terus-menerus, sedangkan pada neurosis gejala psikologis dan somatis dapat bervriasi, temporer dan ringan (tidak terlihat)), 3. Orientasi (pada psikosis, penderiat sering mengalami disorientasi, lain halnya dengan neurosis), 4. Pemahaman (insight, penderita psikosis tidak memahami bahwa dirinya sakit, pada neurosis penderita memahami bahwa dirinya mengalami gangguan mood), 5. Resiko sosial (penderita psikosis terkadang membahayakan orang lain disebabkan wahamnya atau membahayakan diri sendiri, sedangkan penderita neurosis tidak membahayakan orang lain, tetapi diri sendiri. Hal ini disebabkan oleh tidak adanya orang lain yang mengetahui penderita neurosis, kecuali beberapa orang), 6. Penyembuhan (penderita psikosis sulit untuk dapat kembali kepada keadaan semula dan harus dirawat di rumah sakit, lain halnya dengan penderita neurosis).

SKIZOFRENIA
Beberapa konsep skizofrenia yang telah diajukan: 1. Demensia prekoks oleh Emil kraepelin (demensia prematur, demensia termasuk ke dalam psikosis organik. emil kraepelin di sini memasukkan skizofrenia ke dalam gangguan psikosis organik, yang berarti psikosis yang penurunan grafiknya tajam dan ditandai oleh disintegrasi kognitif), 2. Oleh eugen bleuler yang mendefinisikan sebagai pemecahan pikirian (asal dari istilah skizofrenia), emosi, dan perilaku, dengan tanda 4A: asosiasi (kemampuan untuk menyambungkan suatu hal dengan hal yang lain), afeksi (latin afficere: memengaruhi), autisme, dan ambivalensi (perasaan tidak yakin atau bercampur atau pikiran yang berlawanan), 3. Oleh kurt schneider yang mendefinisikannya sebagai first-rank symptom (yang terdiri dari halusinasi auditoris (gejala dari psikosis fungsional), gangguan berfikir, broadcastion (seperti ada orang yang berbicara), halusinasi somatik (halusinasi yang berasal dari tubuh, bukan dari pikiran), persepsi delusional (seperti berkhayal atau berangan yang berlebihan), suatu perasaan yang dihasilkan dari khayalan yang disebutkan) dan second-rank symptom (yang terdiri dari delusi, persepsi delusional, referensi delusional (pasien menunjuk seseorang yang tidak ada), hypnagogic hallutination (hypnagogic didefinisikan sebagai keadaan sementara sebelum tidur), mania (keadaan sangat bersemangat dan mengerjakan sesuatu yang nyata dan terlalu beresiko), passivity (keadaan pasif, mania dan keadaan pasif ini merupakan gejala bipolar), skizofrenia, thought alienation (diacuhkan oleh orang-orang sekitar akibat pemikiran/halusinasinya)).
Merupakan sindrom (sindrom merupakan kumpulan gejala subjektif (symptom, kebalikan dari sign) yang seringkali muncul bersamaan secara konsisten atau keadaan yang memunculkan banyak symptom yang khas) dengan variasi yang banyak, perjalanan peyakit yang luas, serta akibat yang tergantung pada perimbangan pengaruh genetik, fisik (yang berarti meskipun skizofrenia memiliki gejala fisik maupun genetik bukan berarti dimasukkan dalam kategori psikosis organik), dan sosial budaya. Penyakit ini ditandai dengan penyimpangan yang dapat dikenal dari gejala 4A (afektif, asosiasi, ambivalensi, dan autisme, lihat penjelasan menurut eugene bleuler). Terdapat disharmoni antara unsur-unsur kepribadian: pb, afek/emosi (latin afficere: memengaruhi, perasaan), kemauan (dorongan naluriah untuk memenuhi kebutuhan hidup), dan psikomotor (perhatikan bahwa keempat unsur ini adalah unsur utama kepribadian seseorang). Kesadaran jernih dan kemampuan kognitif biasanya tidak berkurang (kemampuan kognitif juga merupakan bagian dari kepribadian. Hal ini berarti bahwa aspek kepribadian terganggu kecuali kognitif. Kemampuan kognitif pun terkadang akan terganggu tetapi tidak langsung)
GEJALA-GEJALA SKIZORFRENIA
Gejala skizofrenia ada empat:
1.       Kontak dengan realitas tidak ada dan penderita lebih sering berhubungan dengan khayalannya sendiri,
2.       Penderita seringkali sulit untuk diketahui pembicaraannya karena meloncat-loncat (inkoheren),
3.       Pikiran, ucapan, dan perbuatan tidak sejalan (ketiganya merupakan aspek kejiwaan). Pada penderitanya, ketiga aspek ini sering berjalan sendiri (penderita dapat menceritakan cerita menyedihkan sambil tertawa), dan
4.        Adanya halusinasi.
POSITIVE AND NEGATIVE SYMPTOMS
Terjadi simptom (gejala yang dirasakan) yang negatif dan positif pada pasien, di antaranya: alogia (kurang bicara, pembicaraan yang tidak jelas. Masuk kepada autisme di 4A), affective flattening (merupakan kurangnya ekspresi yang menceritakan emosi pasien, gangguan pada aspek afeksi/emosi, juga pada 4A), avolition-apathy (kurangnya motivasi dan keacuhan, keduanya merupakan gangguan kepribadian pada aspek kemauan dan emosi, juga pada 4A), anhedonia-asociality (kurangnya perasaan nikmat, aspek emosi. Dapat juga merupakan asosiasi pada 4A), dan attentional impairment (autisme pada 4A) yang semuanya merupakan gejala negatif, halusinasi (tanda ambivalensi 4A pada eugene), delusi (juga ambivalensi pada 4A), bizarre behavour (autisme pada 4A), dan positive formal disorder (kelainan pemikiran yang ditandai dengan bicara yang tidak teratur) yang merupakan gejala positif dari skizofrenia.
PEDOMAN DIAGNOSTIK:
Sedikitnya satu gejala yang jelas atau gejala yang kurang tajam dari kriteria-kriteria berikut:
a.       Pikiran:
Pikiran bergema, disisipi atau tercabut, atau disiarkan
b.      Waham:
Waham dikontrol, pengaruh, pasifitas, atau persepsi
c.       Halusinasi auditorik:
Suara halusinasi yang berkomentar terhadap perilaku pasien, mendiskusikan perihal pasien, atau jenis halusinasi auditorik yang berasal dari salah satu anggota tubuh.
Paling sedikit dua gejala ini harus selalu ada secara jelas: halusinasi yang menetap, arus pikiran yang terputus atau mengalami sisipan (berakibat kepada inkoherensi perkataan), perilaku katatonik (katatonia adalah pergerakan yang tidak normal yang berasal dari gangguan jiwa), gejala-gejala negatif (dijelaskan sebelumnya), dan gejala-gejala tersebut berlangsung minimal satu bulan.
JENIS-JENIS SKIZOFRENIA
Di sini, terdapat F20.0 sampai dengan F20.9 (10 poin), sedangkan ditandai empat poin dari 10. Yaitu F20.0-2 serta F20.6 yang merupakan empat jenis yang penting. Keempat jenis tersebut memiliki gejala yang menonjol. Pada skizofrenia paranoid (F20.0), isi pikiran seseorang mengalami waham curiga dengan disertai kejaran, biasanya terjadi berkelanjutan, pada heberfrenik (F20.1), terjadi bentuk pikiran, waham bizar, dan regresi, waham ini terjadi episodik dan kemunduran progresif, pada skizofrenia katatonik (F20.2), terjadi gangguan psikomotor, terjadi dengan kemunduran stabil, pada F20.6 (simpleks), terjadi kemauan yang menurun.
Kriteria skizofrenia terdiri dari dua kategori. Jika pasien memenuhi satu poin yang jelas atau dua poin yang tidak jelas dari poin pertama (poin pertama terdiri dari pikiran aneh, waham aneh, halusinasi auditorik, dan waham tak mungkin (tidak wajar secara budaya dan tak mungkin)), dan paling sedikit dua gejala yang tidak jelas dari kelompok kriteria selanjutnya (terdiri dari halusinasi menetap yang terjadi selama satu bulan atau lebih, atau disertai mengambang tanpa kandungan afektif yang jelas, atau disertai ide berlebihan dan menetap, inkoherensi (pembicaraan tidak relevan akibat arus pikiran yang tersisipi), dan katatonia (gaduh, gelisah, mematung, fleksibilitas serta, negativisme, mutisme, dan stupor), serta gejala negatif (sangat apatis, miskin pembicaraan, emosi tumpul/tak serasi))
Setelah mendiagnosis pasien menggunakan kriteria-kriteria tersebut, sebaiknya dokter mempertimbangkan 1. Gejala berlangsung terus-menerus paling sedikit satu bulan, 2. Bila memenuhi kriteria manik atau depresif, maka gejala psikotik awal (satu poin jelas atau dua poin samar) harus mendahuluinya (jika tidak, mungkin diagnosis akan mengarah ke penyakit lain, seperti gejala psikotik pasca depresi), dan 3. Tidak disebabkan oleh penyakit otak atau intoksinasi atau lepas zat (sama seperti poin 2).
Pada skizofrenia paranoid, waham halusinasi harus menonjol (dengan gejala negatif, gejala katatonik, atau inkoherensi menonjol. Bila menonjol, maka dapat masuk ke diagnosis yang lain (simpatik, heberfrenik, atau katatonik)). Pada skizofrenia hebrefrenik, harus terdapat ekspresi afektif tumpul atau tidak serasi, harus terdapat salah satu dari perilaku takbertujuan atau inkoherensi/pembicaraan tak menentu, dan waham/halusinasi tidak menonjok (jika menonjol dimungkinkan skizofrenia tipe paranoid). Pada skizofrenia katatnok, harus terdapat gejala yang menonjol dari stupor atau mutisme, gaduh gelisah, mematung, negativisme, rigiditas, fleksibilitas serea, dan otomatisme perintah selama dua minggu atau lebih (keadaan-keadaan katatonik ini sangat membedakan skizofrenia tipe ini dari yang lain). Pada skizofrenia tak terinci, tidak terdapat salah satu dari beberapa kriteria yang telah disebutkan sebelumnya pada paragraf ini. pada skizofrenia simpleks, terjadi gangguan kemauan yang menonjol (kemauan termasuk ke dalam gangguan-gangguan dasar kepribadian), kedangkalan emosi (juga termasuk ke dalam gangguan kepribadian), gangguan kepribadian skizoid (selain kognitif), kurang jelas gejala psikotiknya, waham dan halusinasi jarang sekali terdapat (gangguan ini tidak seperti ketiga gangguan penting lainnya), serta timbulnya perlahan-lahan sekali. Sedangkan skizofrenia residual pada saat ini belum memenuhi kriteria skizofrenia. Paling tidak terdapat paling sedikit empat dari gejala ini: 1. Perlambatan psikomotor, ekspresi afektif tumpul (4A), pasif dan inisiatif kurang, kemiskinan kuantitas dan isi pembicaraan, miskin komunikasi nonverbal (emosi, 4A), perawatan diri dan kinerja sosial yang buruk.
DEPRESI PASCASKIZOFRENIA
Merupakan gejala yang terjadi pascaskizofrenia yang terjadi setelah 12 bulan mengalami kealainan. Salah satu gejala psikotik kelompok kedua dari skizofrenia harus tetap ada (halusinasi mengambang tanpa disertai gejala afektif, halusinasi yang terjadi satu bulan atau lebih, atau ide yang berlebihan (tidak dalam satu bulan)), dan memenuhi kriteria episode depresif yang menonjol paling sedikit dua minggu.
PERJALANAN PENYAKIT
Fase-fase pada skizofrenia: fase prodormal (pada fase ini, seseorang memiliki gejala yang tidak khas dan sulit untuk dibedakan dengan penyakit mental yang lain, seperti depresi), aktif (pada fase ini banyak gejala aktif pada skizofrenia yang muncul dan bukan negatif), dan residual (banyak gejala negatif yang timbul, seperti tumpulnya emosi, gejala eksentrik, dan kurangnya gejala psikotik pada dirinya).
KEPARAHAN PENYAKIT
Keparahan penyakit dikaitkan dengan: 1. Sekacau apakah pikiran seseorang, 2. Bagaimana pengaruhnya terhadap perilaku (diasosiasikan dengan halusinasi perintah, halusinasi perintah adalah halusinasi yang membuat orang seperti diperintah untuk mengerjakan sesuatu), 3. Penderitaan yang dialami seseorang, dan 4. Separah apa terhadap gangguan fungsi sosialnya (dikaitkan dengan lingkungan sekitarnya, biasanya orang dengan waham curiga (skizofrenia paranoid) akan kesulitan).
EFEK
Keparahan yang terkait dengan gejala negatifnya adalah isolasi sosial, apatisme (kurangnya kemauan untuk mengekspresikan emosinya terhadap lingkungan), dan tidak mau mengekspresikan perasaannya, sedangkan keparahan yang dikaitkan degnan fungsi kognitifnya adalah konsentrasi lemah, daya ingat lemah, tidak mampu membuat suatu keputusan sederhana, dan tidak mampu menginterpretasi tanda-tanda sosial.
BUNUH DIRI PADA SKIZOFRENIA
10% kejadian terjadi pada orang dengan kondisi tersebut (bisa dikaitkan dengan waham perintah, dapat juga dikaitkan dengan kondisi depresi pascaskizofrenia), dengan kejadian yang lebih tinggi pada orang dengan onset awal skizofrenia (setahun pertama), relatif orang yang lebih muda bunuh diri, lebih besar pada yang tidak menikah degngan riwayat percobaan bunuh diri (hadirnya pasangan terkadang dapat membantu pasien dalam rehabilitasi), dan sedikit sekali karena mengikuti halusinasi atau paranoidnya (seperti yang telah disebutkan sebelumnya).
PENATALAKSANAAN
FAKMAKOTERAPI
TERAPI PSIKOSOSIAL
Termasuk ke dalamnya terapi perilaku, keluarga, grup, dan psikoterapi individual
PROGNOSIS
Pasien 70% sd 80% kambuh dalam waktu dua bulan tanpa pengobatan, sedangkan dengan pengobatan akan berkurang kekambuhan sebesar 30%. Faktor-faktor yang berkaitan dengan prognosis adalah keturunan, usia pertama kali terkena skizofrenia, jenis skizofrenia, kecepatan penanganan, kepatuhan minum obat, peran keluarga, bekerja atau tidak ,menikah atau tidak, dan pendidikan.
TANTANGAN KLINISI

Banyak tantangan yang dihadapi oleh klinisi dalam menangani pasien skizofrenia. Di antaranya adalah stigma keluarga atau lingkungan sosial, pemahaman pasien yang terganggu sehingga sulit untuk menjelaskan kepada pasien atau pasien sulit minum obat, dan kepatuhan pasien terhadap minum obat seringkali berubah-ubah. 

Rabu, 04 Oktober 2017

Fisiologi Saraf

(27/09/2017) setelah beberapa hari kemarin saya belajar mengenai overview saraf, sekarang saya masuk ke graded potential. Adapun rangkuman dari hal yang telah saya pelajari: pada diagramnya, terdapat beberapa istilah: polarisasi adalah perubahan membran potensial dari keadaan fisiologis (-70 mV), depolarisasi adalah perubahan perbedaan listrik pada membran menjadi lebih positif, yang berarti bahwa ICF lebibh negatif dan ECF menjadi lebih positif, hiperpolarisasi merupakan kebalikan dari depolarisasi, sedangkan repolarisasi adalah penurunan pada kurva depolarisasi, sehingga kembali ke keadaan fisiologis.

Jawaban 4.1:
1.      Two types of excitable tissues are nerve and muscle tissues.
2.     (tidak digambar) pada depolarisasi terjadi Na- masuk ke dalam dan K- menuju ke luar membran sel yang menyebabkan, pada repolarisasi ATP gated ion channel membuang Na+ yang masuk dan  yang keluar sehingga terjadi keseimbangan fisiologis kembali seperti semula, pada hiperpolarisasi ion akan menuju ke tempatnya masing-masing sehingga beda potensial membran menjadi lebih negatif.
3.       (kurang tahu karena saya melewati bab sebelumnya)

Kali ini, saya diberikan kesempatan membaca graded potensial. (graded potentials are local changes in membrane potential that occur in varying grades or degrees of magnitude of strength) lihat keterangan mengenai polarisasi. Graded potential adalah selisih angka yang menunjukkan derajat perubahan potensial tersebut. Misal (membrane potential could change from -70mV to -60mV (a 10 graded potential)).

Graded potential biasanya terjadi karena ada hal yang mencetuskannya. Biasanya paling sering terjadi pada masuknya Na+ (yang berarti bukan keduanya, Na+- dan K- yang masuk secara simultan) ke dalam sel membran (biasanya Na+ berada pada luar membran). Hal ini bekerja pada bagian tertentu pada membran sel yang dapat tereksitasi (Neuron dan muscle), bagian yang kecil.

Semakin besar pemicu, semakin besar pula graded potential yang terjadi (hal ini logis karena graded potential pada grafiknya merupakan potensi yang memiliki nilai/kuantitas, sehingga secara matematis dapat memiliki besaran tertentu).

Ternyata, hubungan sebab akibatnya sebagai berikut: semakin banyak pemicu terdapat, maka semakin banyak gerbang ion yang terbuka (hal ini berimplikasi kepada sikap kita menerjemahkan diagram eksitasi sel: bahwa nilai positif atau negatif pada diagram tersebut berarti perubahan secara kolektif beda potensial pada keseluruhan membran) berimplikasi kepada banyaknya Na+ yang masuk ke dalam sel. semakin banyak ion positif (perhatikan penggunaan kata ion) masuk ke dalam, maka semakin positif pula ICF (yang berarti juga bahwa perhitungan yang dilakukan untuk menentukan grafik beda potensial berfokus kepada ICF, hal ini harus dibuktikan dengan melihat cara perhitungan beda potensial, yang berada di luar cakupan tulisan ini).

Durasi graded potential tergantung kepada lamanya triggering event (lamanya pemicu memacunya), yang berarti tergantung kepada lamanya ion channel terbuka sehingga ion dapat keluar atau masuk.

GRADED POTENTIALS SPREAD BY PASSIVE CURRENT FLOW

Ketika graded potential terjadi pada bagian tertentu pada sel (bagian kecil, baca tulisan di atas), bagian sel lain pada membran (saraf atau otot) tetap dalam keadaan istirahat (perbedaan potensialnya -70mV, baca atas). Perbedaan potensial setempat dibanding daerah lain pada membran sel membuat listrik (yang dibawa oleh ion) mengalir secara pasif. Hal ini dinamakan current (latin currere: berlari). Dua kalimat di atas menyiratkan bahwa secara logika, arah current adalah arah ion positif yang mengalir (arah ion Na+ dalam kasus ini dilihat dari dalam sel). Kita harus mengingat bahwa dalam konsep ini, ion channel tetap hanya terbuka beberapa bagian. Terbukanya satu ion channel tidak membuka ion channel lainnya. Hal ini berarti ion positif (Na+ dalam kasus ini) mengalir di ICF ke bagian yang masih negatif (lebih negatif). Analoginya seperti mengalirkan air ke dalam lubang pipa, pipa yang kosong akan terisi oleh air setelah air masuk lubang. Dilihat dari ECF, ion positif mengalir ke ion channel yang sedang terbuka (ingat analogi air).

Aliran ion positif (Na+) ke tempat yang masih negatif (ingat analogi air) membuat membran menjadi lebih positif di dalam dan lebih negatif di luar (lebih negatif di luar karena ion positif cenderung mengisi lubang air (ion channel) dan meninggalkan bagian luar menjadi lebih negatif, meskipun pada ECF masih ada ion Na+ yang lain).

Sekarang, penulis (sherwood) menjelaskan tentang mengapa current tidak mengalir melalui membran plasma dengan konsep resistance (resistensi). Terdapat dua jenis penghantar listrik: konduktor dan isolator. Jika konduktor mengalirkan listrik dengan baik, maka isolator tidak dapat mengalirkan listrik sebik konduktor. ICF dan ECF merupakan konduktor yang baik, sedangkan lemak merupakan isolator yang baik (konduktor yang buruk). Hal ini berimplikasi kepada tidak mengalirnya listrik (yang berupa ion) melalui lipid bilayer, tetapi hanya melalui ion channel.

GRADED POTENTIALS DIE OUT OVER SHORT DISTANCES

Ternyata, ketika Na+ masuk ke luar sel, k+ memiliki kesempatan untuk keluar sel. hal ini terjadi karena terjadi perbedaan gradien elektrokimia antara ICF dan ECF (perhatikan bahwa keduanya, Na+ dan K+ adalah ion positif. Dan perhatikan juga bahwa ion channel bersifat khusus untuk satu jenis ion, membuat hanya salah satunya dapat masuk atau keluar dalam satu waktu tertentu). Ion channel untuk K+ terbuka pada beberapa titik di membran sel. dikatakan bahwa terbukanya ion channel K+ sebagai daerah yang tidak terdapat isolator. hal ini menyebabkan perbedaan graded potential antara pusat current dengan daerah sekitarnya, yang di dalamnya ion channel K+ membuka. Secara logika, dapat disimpulkan bahwa terdapat batas daerah graded potential, tempat graded potential berakhir setelah berkurang secara berkala. Batas daerah graded potential ini bersifat sangat sempit (kurang dari 1 mm). Hal ini dan keterangan tentang durasi (baca atas)menandakan jika graded potential adalah sebuah sinyal yang mengaktifkan sinyal berikutnya (akan dijelaskan berikutnya), maka sifatnya hanya sementara dan berlaku pada daerah yang sempit (kurang dari 1 mm).

Di akhir bagian ini (graded potential), penulis menuliskan bahwa walaupun graded potential memiliki durasi dan batas wilayah tertentu, graded potential banyak ditemukan pada sel.

Jawaban pertanyaan 4.2:
1.      
    Waktu dan kekuatan graded potential berbeda dengan pemicu (graded potential mungkin memiliki durasi yang lebih panjang daripada pemicu, dapat dilihat dari current yang mengalir mungkin membutuhkan waktu untuk berakhir, menyingkirkan pernyataan di atas (baca tulisan di atas) bahwa graded potential berlangsung sesuai dengan lamanya trigerring event) disebabkan oleh current yang membutuhkan waktu untuk berakhir (menurut durasi) dan memiliki perbedaan potensial pada beberapa bagian membran (dalam hal kekuatan), hal ini disebabkan oleh current yang mengalir dan berkurang seiring bertemunya graded potential dengan ion channel k+ yang mengeliminasi ion dan membuang current ke ECF.
2.   Kenaikan perbedaan potensial membuat adanya current yang mengalir ke bagian membran yang masih istirahat, sedangkan perbedaan resistensi dapat membuat perbedaan graded potensial dalam hal tempat current diizinkan lewat atau tidak.
3.     Karena graded potential akan tereliminasi oleh adanya lubang-lubang ion channel K+ yang membuat potensial membran menjadi lebih negatif di ICF dan positif di ECF.

ACTION POTENTIAL

Potensial aksi merupakan potensial yang bersifat terbatas (seperti graded potential), mendadak, tidak decremental (turun perlahan seperti graded potensial) dan dapat dikonduksi melalui membran sel. oleh karena itu, aksi potensial berfungsi sebagai sinyal jarak jauh pada sel tereksitasi (otot dan neuron).

Contohnya jika anda ingin menggerakkan ibu jari kaki. Perintah dikirim dari otak menuju sumsum tulang belakang melalui aksi potensial. sinyal tersebut tidak berkurang sampai ke otot ibu jari kaki yang dgerakkan.

DURING AN ACTION POTENTIAL, THE MEMBRANE POTENTIAL RAPIDLY, TRANSIENTLY REVERSES.

Graded potential dapat mencetuskan potensial aksi jika memenuhi ambang yang ditentukan. Yang berarti jika potensial membran harus terdepolarisasi untuk mencetuskan potensial aksi. Graded potensial memiliki daerah sendiri yang di sana dapat dicetuskan, begitu juga potensial aksi. Daerah khusus graded potential tersebut jika terdepolarisasi dapat mencetuskan daerah khusus potensial aksi yang juga telah disebutkan.

Seperti yang telah dijelaskan sebelumnya, aksi potensial memliliki treshold tertentu. Setelah mencapai treshold (inggris: ambang) tersebut, akan terjadi depolarisasi secara eksplosif yang naik dengan tajam (berbeda jika dibandingkan dengan graded potential yang naik perlahan. Pengamatan dilakukan melihat beda potensial di dalam sel). setelah kenaikan tersebut, terkadang potensial akan turun dan melewati keadaan fisiologis normal (-70mV), disebut juga hiperpolarisasi (bisa mencapai -80mV) (tidak diketahui apakah hiperpolarisasi dapat terjadi jika depolarisasi tidak terlalu melonjak). Setelah itu (terkadang, lihat sebelumnya), membran sel akan kembali ke keadaan fisiologis.  
(28/09/2017) yang disebut dengan aksi potensial adalah gabungan depolarisasi, repolarisasi, hiperpolarisasi, dan ketika potensial kembali ke keadaan fisiologis (-70mV). Graded potential pencetus aksi potensial bersifat all-or-none, jika tercapai ambang (-50mV), maka terjadi aksi potensial. sebaliknya berlaku.

Durasi graded potential berbeda-beda pada sel tereksitasi (neuron dan otot). Durasi aksi potensial sama pada seluruh sel (neuron dan otot) sejenis (otot dengan otot dan neuron dengan neuron)di seluruh tubuh. Pada neuron, aksi potensial lamanya 0.001 sekon (1 milisekon). Pada sel otot, aksi potensial berbeda-beda tergantung jenis sel otot.

Aksi potensial dikenal dengan beberapa istilah: spike, firing, dan action potential sendiri.

MARKED CHANGES IN MEMBRANE PERMEABILITY AND ION MOVEMENT LEAD TO AN ACTION POTENTIAL

Pada aksi potensial, ion yang berperan penting masih Na+ dan K+ (keduanya juga berperan pada graded potential). Jika pada graded potential keduanya berlawanan aksinya, maka pada potensial aksi keduanya bekerja secara sinergis. Jika keduanya terbuka secara bersamaan, maka ion Na+ dan K+ akan keluar membran dan membuat beda potensial ke arah nol.

Protein gate pada membran (perhatikan bahwa protein merupakan polipeptida, peptida adalah blok penyusun protein) memunyai banyak struktur (peptida, seperti yang telah disebutkan) yang bermuatan negatif (peptida dengan gugus tertentu memiliki kecenderungan negatif atau positif). Perubahan elektrisitas pada cairan di sekitarnya membuat protein tersebut berubah strukturnya. Berbeda dengan protein membran lainnya, disebabkan kecenderungan elektronegatifitasnya, protein gate lebih sensitif terhadap perbedaan potensial yang terjadi di membran (atau pada ICF dan ECF). 
Perubahan sedikit saja dapat memengaruhi struktur protein tersebut. Hal ini sejalan dengan kaidah fisiologi “perubahan kecil dapat memengaruhi hal yang besar”


Voltage-gated ion channel milik Na+ memunyai dua gerbang: gerbang aktivasi dan gerbang inaktivasi (seperti pada jenis protein membran lainnya yang tidak dituliskan di sini, tetapi tidak dengan K+). Gerbang inaktivasi terdapat di bagian dalam membran (ICF) dan bentuknya seperti bola. Meskipun nama kedua gerbang adalah gerbang aktivasi dan inaktivasi, kita tidak boleh terkecoh karena keduanya memiliki fungsi yang sama: menghalangi masuknya ion Na+ ke dalam sel. arti dari aktivasi adalah gerbang tersebut dapat sewaktu-waktu terbuka kembali setelah menutup, begitu pula arti inaktivasi adalah gerbang tersebut tidak dapat membuka lagi jika telah tertutup (gerbang tersebut menginaktivasi voltage-gated channel milik Na+). Hal ini berimplikasi kepada jumlah konformasi voltage-gated ion channel milik Na+. Channel tersebut memliki tiga konformasi dari dua kemungkinan tertutupnya gerbang: terbuka keduanya atau tertutup salah satunya (yang memiliki dua konformasi, dijelaskan sebelumnya tentang aktivasi dan inaktivasi), tidak dijelaskan konformasi ketika keduanya menutup. Ketiga konformasi tersebut terjadi jika terdapat perubahan potensial. setelah aksi potensial selesai (fase kembali dari hiperpolarisasi, baca ACTION POTENTIAL), voltage-gated channel kembali ke konformasi kedua (tertutup tetapi dapat membuka kembali/teraktivasi/gerbang inaktivasi tidak menutup).